Kompas.com - 07/04/2018, 18:06 WIB
Kepala RSPAD Gatot Subroto Mayjen TNI dokter Terawan Agus Putranto. Bidik layar Kompas TVKepala RSPAD Gatot Subroto Mayjen TNI dokter Terawan Agus Putranto.

Dalam dunia kedokteran, sudah disepakati untuk penanganan stroke adalah dengan pemberian infus r-TPA (recombinant-Tissue Plasminogen Activator) untuk melarutkan sumbatan atau thrombolysis sebelum pasien melewati waktu golden hour, 3 jam sejak serangan stroke terjadi.

Infus ini juga disepakati tidak diberikan pada stroke jenis perdarahan. Dalam kasus semacam itu, dokter langsung membuka otak dan mengangkat darah beku di otak apabila cukup besar.

Sementara itu, dalam dunia kedokteran teknik DSA hanya dikenal sebagai alat diagnostik untuk melihat kelainan pembuluh darah otak.

Handrawan berkata bahwa tidak semua kasus sumbatan pembuluh darah di otak akan mengakibatkan stroke. Apabila area sumbatan masih kecil, tidak berarti stroke akan terjadi.

Namun, area tersebut akan terlihat layu dan mati ketika dilihat dari scan. Kondisi seperti itulah yang sering disebut "silent stroke", yaitu sudah ada tanda-tanda stroke namun belum terjadi serangan stroke. Gejala pengidap "silent stroke" adalah mudah lupa atau mengalami defisit neurologis ringan.

Berdasar rumor yang diperoleh Handrawan, Terawan melakukan metodenya terhadap pasien tipe "silent stroke" ini.

Baca Juga: Soal Etika yang Dilanggar Dokter Terawan, MKEK IDI Bungkam

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menyikapi kontroversi yang berkembang di masyarakat, Handrawan mengatakan bahwa ada dua hal penting, uji ilmiah dan kode etik. Sebuah inovasi baru harus melalui sejumlah tahapan pembuktian ilmiah sesuai standar yang berlaku, dan tidak hanya berpatokan pada khasiat menyembuhkan penyakit, tetapi juga keamanan bagi pasien.

Pengujian secara ilmiah terhadap zat herapin atau zat lain yang digunakan Terawan juga harus dilakukan untuk memastikan layak tidaknya zat tersebut.

Handrawan mencontohkan mekanisme lembaga FDA di Amerika Serikat yang mengawasi secara ketat peredaran obat-obatan. FDA tidak hanya berpatokan pada khasiat sebuah obat saja, tetapi juga mengawasai metode terapi yang diberikan seorang dokter.

Terkait kode etik, Handrawan menjelaskan bahwa cara pandang praktisi medis bahwa tubuh pasien bukanlah mesin merupakan patokan utama. Selain itu praktisi medis juga menjunjung tinggi nilai kepatuhan terhadap nilai etika, tunduk pada regulasi, dan taat pada prinsip moral.

Handrawan menyoroti teknik DSA yang dilakukan Terawan merupakan tindakan melanggar etika karena memasukan sesuatu zat ke dalam tubuh yang mungkin mengandung risiko dan efek tertentu. Hal tersebut mungkin tidak disadari oleh masyarakat yang kurang memahami efek kimiawi di dalam tubuh.

Terakhir, dia juga menyayangkan munculnya opini di masyarakat yang menyatakan kesembuhan setelah menjalani terapi "kuras otak" dari Terawan. Dia pun menghimbau pihak medis untuk segera turun tangan mengatasai kesalahpahaman ini.

Halaman:


Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.