Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Point Nemo yang Nyaris Jadi Peristirahatan Akhir Tiangong-1

Kompas.com - 03/04/2018, 06:05 WIB
Shierine Wangsa Wibawa

Penulis

KOMPAS.com – Senin kemarin (2/4/2018), Tiangong-1 akhirnya kembali ke bumi sekitar pukul 07.06 WIB. Wahana luar angkasa dengan berat 8,5 ton itu tidak terbakar seluruhnya di atmosfer dan akhirnya jatuh di Samudra Pasifik.

Menurut astronom Jonathan McDowell dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, lokasi terakhir Tiangong-1 adalah selatan Samudra Pasifik di dekat Tahiti. Artinya, Tiangong-1 jatuh tidak jauh dari kuburan wahana antariksa, Point Nemo.

Point Nemo yang berarti “Bukan siapa-siapa” dalam bahasa latin berada pada koordinat  48 derajat 52,6 menit lintang selatan dan 123 derajat 23,6 menit bujur barat. Dikenal juga dengan sebutan Titik Terpencil Samudera, Point Nemo berjarak sekitar 2.250 kilometer dari daratan di sekitarnya.

Lokasinya yang terpencil inilah yang membuat Point Nemo cocok dijadikan kuburan wahana antariksa.

Baca juga : Tiangong 1 Kembali ke Bumi, Jatuh di Samudra Pasifik

“Fiturnya yang paling menarik untuk dijadikan lokasi masuknya kembali wahana antariksa yang terkontrol adalah tidak ada orang yang tinggal di sana,” ujar Stijn Lemmens, seorang pakar sampah antariksa di European Space Agency kepada AFP.

Dia melanjutkan, kebetulan juga lokasi ini tidak terlalu beragam secara biologis. Jadi, ia digunakan sebagai tempat sampah, atau lebih sopannya ‘kuburan wahana antariksa’, mayoritas untuk wahana antariksa kargo.

Sejauh ini, Point Nemo telah menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk sekitar 300 wahana antariksa. Antara 1971 hingga pertengahan antariksa saja, badan antariksa di seluruh dunia telah membuang 260 wahana antariksa di titik ini.

Baca juga : Mengapa Wahana Antariksa Cassini Harus Dihancurkan?

Salah satu benda terbesar di kuburan ini adalah laboratorium antariksa MIR milik Rusia yang berbobot sekitar 120 ton. Raksasa tersebut jatuh ke Point Nemo pada 2011.

Kini, yang paling sering menggunakan Point Nemo adalah kapsul Progress. Wahana antariksa tersebut, ujar Lemmens, digunakan untuk bolak-balik ke International Space Station oleh Rusia.

Namun, ke depannya Point Nemo mungkin tidak akan lagi menjadi tempat pembuangan wahana antariksa.

Pasalnya, wahana antariksa masa depan akan didesain untuk terbakar sempurna di atmosfer. NASA dan ESA, misalnya, mengganti bahan tangki bahan bakar mereka dari titanium ke alumunium yang terbakar pada suhu lebih rendah.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Video Pilihan Video Lainnya >

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau