Kompas.com - 27/03/2018, 19:06 WIB
Ilustrasi sampah plastik. ThinkstockIlustrasi sampah plastik.

KOMPAS.com - Kebiasaan membakar sampah plastik kerap dilakukan masyarakat. Dalih yang dipakai adalah untuk mengurangi tumpukan sampah.

Sampah memang berkurang karena menyusut menjadi abu setelah pembakaran, tetapi cara ini justru menimbulkan masalah baru bagi kesehatan maupun lingkungan.

Menurut Direktur Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, DR Emil Budianto, yang ditemui disela-sela acara Seminar bersama Technoplast, sampah plastik yang menggunung menyimpan kandungan karbon dan hidrogen.

Zat-zat tersebut akan berkumpul dengan zat lain seperti klorida yang ditemukan pada sisa makanan, dan ketika disulut api, campurannya akan melepaskan zat berbahaya bagi manusia.

Baca juga : Jangan Mengemas Makanan Pakai Kresek, Bisa Beracun bagi Tubuh

“Kalau sampah-sampah plastik beserta sisa makanan itu dibakar akan memproduksi dioksin dan furan. Zat tersebut dalam konsentrasi kecil saja bisa menyebabkan kematian,” ujarnya pada Senin (26/3/2018) di Jakarta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Emil melanjutkan, paparan zat dioksin apabila dihirup manusia dalam waktu singkat akan menimbulkan reaksi batuk, sesak napas, dan pusing. Gejala tersebut adalah respons tubuh saat terpapar zat berbahaya.

Lalu, paparan dioksin pada jangka panjang diketahui bisa memicu kanker.

Bahaya lain dari pembakaran sampah adalah pencemaran udara. Pasalnya, emisi karbondioksida yang dihasilkan akan menipiskan lapisan ozon.

Baca juga : Penemuan yang Mengubah Dunia: Plastik, Si Serba Guna Tapi Berbahaya

Emil berkata bahwa sampah yang semula padat akan berubah menjadi partikel zat yang merusak lapisan ozon. Gas rumah kaca pun akan meningkat sehingga pemanasan global semakin parah. Ini akan berdampak pada kehidupan manusia seperti suhu bumi semakin panas dan pencairan es di kutub.

Sebetulnya, ada cara agar pembakaran tidak menimbulkan dioksin, yakni pembakaran stabil yang berlangsung pada suhu 1.000 derajat celcius. Namun, suhu sebesar itu baru bisa dilakukan jika membakar menggunakan mesin incinerator.

Pembakaran tidak menghasilkan zat bahaya selama dilakukan pada suhu 1.000 derajat Celsius. Untuk rumah tangga ini sulit tentunya,” ujar Emil.

Oleh karena itu, kebiasaan membakar plastik sebaiknya dihentikan. Emil menyarankan agar masyarakat mulai sadar untuk mengurangi pemakaian plastik. Setiap kali berbelanja, lebih baik membawa tas sendiri. Lalu, pembelian botol air minum kemasan sekali pakai ditekan, dan digantikan dengan membawa botol minum sendiri dari rumah.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ahli: Belum Ada Bukti Kuat Penularan Covid-19 dari Jenazah

Ahli: Belum Ada Bukti Kuat Penularan Covid-19 dari Jenazah

Kita
Agar Tak Kehilangan Mangsa, Begini Cara Elang Mengedipkan Mata

Agar Tak Kehilangan Mangsa, Begini Cara Elang Mengedipkan Mata

Oh Begitu
Tidak Sembarangan, Begini Standar Pemulasaraan Jenazah Covid-19

Tidak Sembarangan, Begini Standar Pemulasaraan Jenazah Covid-19

Oh Begitu
Gempa Pacitan Tadi Malam Dekat dengan Sumber Gempa Besar 1937

Gempa Pacitan Tadi Malam Dekat dengan Sumber Gempa Besar 1937

Fenomena
Kopi dan Kafein Tidak Mengganggu Detak Jantung, Studi Jelaskan

Kopi dan Kafein Tidak Mengganggu Detak Jantung, Studi Jelaskan

Oh Begitu
POPULER SAINS: Gejala Covid-19 Singkat Seperti yang Dialami Raffi Ahmad | Lava Pijar Merapi Capai Batas Vegetasi

POPULER SAINS: Gejala Covid-19 Singkat Seperti yang Dialami Raffi Ahmad | Lava Pijar Merapi Capai Batas Vegetasi

Oh Begitu
Pertama Kali, Astronom Deteksi Uap Air di Satelit Jupiter Ganymede

Pertama Kali, Astronom Deteksi Uap Air di Satelit Jupiter Ganymede

Oh Begitu
Mengapa Ada Jamur yang Beracun dan yang Tidak?

Mengapa Ada Jamur yang Beracun dan yang Tidak?

Prof Cilik
Mau Kurus? Ini Olahraga yang Membakar Kalori Paling Banyak

Mau Kurus? Ini Olahraga yang Membakar Kalori Paling Banyak

Oh Begitu
Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Covid-19

Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Covid-19

Oh Begitu
Studi Ungkap 33,8 Persen Anak Indonesia Cenderung Bergaya Hidup Tidak Aktif

Studi Ungkap 33,8 Persen Anak Indonesia Cenderung Bergaya Hidup Tidak Aktif

Oh Begitu
Makan di Tempat 20 Menit, Ahli: Virus Corona Mengincar Orang Tanpa Masker

Makan di Tempat 20 Menit, Ahli: Virus Corona Mengincar Orang Tanpa Masker

Oh Begitu
Lontaran Lava Pijar Gunung Merapi Capai Batas Vegetasi, Ini Rekomendasi BPPTKG

Lontaran Lava Pijar Gunung Merapi Capai Batas Vegetasi, Ini Rekomendasi BPPTKG

Fenomena
Ahli Bantah Dexamethasone dan Azythromycin pada Covid-19 Sebabkan Asidosis Laktat akibat Interaksi Obat

Ahli Bantah Dexamethasone dan Azythromycin pada Covid-19 Sebabkan Asidosis Laktat akibat Interaksi Obat

Kita
Raffi Ahmad Mengaku Positif Covid-19 Hanya Sehari, Ini yang Terjadi

Raffi Ahmad Mengaku Positif Covid-19 Hanya Sehari, Ini yang Terjadi

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X