Perangi Perdagangan Satwa Liar, Ahli Konservasi Pakai Teknologi Tinggi

Kompas.com - 13/03/2018, 17:00 WIB
Kepolisian berhasil mengungkap praktik perdagangan satwa langka lewat Facebook di Garut pada Sabtu (21/2/2015). 14 Jenis satwa liar dengan total 33 individu berhasil disita. JAANKepolisian berhasil mengungkap praktik perdagangan satwa langka lewat Facebook di Garut pada Sabtu (21/2/2015). 14 Jenis satwa liar dengan total 33 individu berhasil disita.

KOMPAS.com - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang punya keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Banyak satwa yang merupakan endemik (satwa asli) Indonesia, seperti harimau, orangutan, burung kasuari, dan lain sebagainya.

Sayangnya, keanekaragaman hayati tersebut kini terancam. Salah satu alasannya adalah perdagangan satwa liar yang makin marak.

Bahkan, perdagangan satwa ilegal ini telah membawa beberapa spesies ke jurang kepunahan. Ini tentu meresahkan banyak kalangan, di antaranya para ahli konservasi.

Untuk itu, para ahli konservasi kini menggunakan gadget atau perangkat eletronik untuk melindungi satwa langka dan terancam punah.

Baca juga: 78 Raksasa Teknologi Bersatu Melawan Perdagangan Satwa Ilegal

"Tanpa ragu (teknologi) mungkin adalah salah satu cara terbesar untuk membantu orang baik menangkap orang jahat," ungkap Matthew Pritchett dari kelompok anti-perdagangan Freeland Foundation dikutip dari AFP, Senin (12/03/2018).

"Para kriminal yang berada di balik perdagangan satwa liar ilegal adalah sindikat besar yang terogranisir dan sangat canggih," imbuhnya.

Demi mengimbangi kelompok perdagangan satwa ilegal tersebut, para aktivis sekarang menerapkan teknologi.

Salah satunya, Wildlife Conservation Society (WCS) yang bekerja sama dengan pihak berwenang di Indonesia. Mereka menggunakan software untuk memetakan jaringan kriminal dan mengambil data dari perangkat elektronik (sindikat) yang disita.

Barcode DNA

Penggunaan teknologi dalam memerangi perdagangan satwa liar juga dilakukan oleh International Animal Rescue Indonesia (IAR). Mereka menggunakan barcode DNA yang mengandalkan urutan genetik pendek untuk mengidentifikasi spesies.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X