Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Perangi Perdagangan Satwa Liar, Ahli Konservasi Pakai Teknologi Tinggi

KOMPAS.com - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang punya keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Banyak satwa yang merupakan endemik (satwa asli) Indonesia, seperti harimau, orangutan, burung kasuari, dan lain sebagainya.

Sayangnya, keanekaragaman hayati tersebut kini terancam. Salah satu alasannya adalah perdagangan satwa liar yang makin marak.

Bahkan, perdagangan satwa ilegal ini telah membawa beberapa spesies ke jurang kepunahan. Ini tentu meresahkan banyak kalangan, di antaranya para ahli konservasi.

Untuk itu, para ahli konservasi kini menggunakan gadget atau perangkat eletronik untuk melindungi satwa langka dan terancam punah.

"Tanpa ragu (teknologi) mungkin adalah salah satu cara terbesar untuk membantu orang baik menangkap orang jahat," ungkap Matthew Pritchett dari kelompok anti-perdagangan Freeland Foundation dikutip dari AFP, Senin (12/03/2018).

"Para kriminal yang berada di balik perdagangan satwa liar ilegal adalah sindikat besar yang terogranisir dan sangat canggih," imbuhnya.

Demi mengimbangi kelompok perdagangan satwa ilegal tersebut, para aktivis sekarang menerapkan teknologi.

Salah satunya, Wildlife Conservation Society (WCS) yang bekerja sama dengan pihak berwenang di Indonesia. Mereka menggunakan software untuk memetakan jaringan kriminal dan mengambil data dari perangkat elektronik (sindikat) yang disita.

Barcode DNA

Penggunaan teknologi dalam memerangi perdagangan satwa liar juga dilakukan oleh International Animal Rescue Indonesia (IAR). Mereka menggunakan barcode DNA yang mengandalkan urutan genetik pendek untuk mengidentifikasi spesies.

Dengan cara ini, sampel jaringan dari hewan yang disita bisa dirujuk silang dengan database kode genetik yang tersimpan. Cara ini akan membantu membedakan antara spesies dan sub-spesies dengan jelas.

"Jika kita memiliki hewan yang telah diketahui dan punya hewan yang ditemukan, contohnya di Jakarta, kita bisa membandingkan sampel genetiknya," kata Christine Rattel, penasehat program IAR.

"Kita kemudian bisa melacak area perburuan (hewan tersebut) dan rute perdagangannya," sambungnya.

Bantuan dari lembaga konservasi semacam ini membantu pemerintah Indonesia untuk memerangi kepunahan satwa. Apalagi, para ahli mengungkapkan bahwa meski sudah ada serangkaian undang-undang untuk melindungi satwa, penjaga hutan dan polisi Indonesia kekurangan sumber daya ilmiah.

"Apa yang banyak orang tidak sadari adalah petugas penegak hukum bukan ahli biologi," kata Pritchett.

"Mungkin beberapa dari mereka yang memiliki spesialisasi, tapi saat ini kita berbicara tentang 25.000 hingga 30.000 spesies di seluruh dunia yang dilindungi dari perdagangan internasional," tambahnya.

Identifikasi Smartphone

Kekurangan inilah yang membuat Freeland Foundation mengembangkan aplikasi WildScan. Aplikasi ini adalah sebuah identifikasi smartphone.

Dengan aplikasi ini, aparat penegak hukum dan masyarakat bisa menggeser dan mengklik pertanyaan dan foto untuk menentukan spesies apa yang mereka temui.

Jika hasilnya adalah hewan yang dilindungi, masyarakat bisa memotret dan melaporkannya ke pihak yang berwenang. Tak hanya di Indonesia, tapi di seluruh Asia Tenggara bisa menggunakan aplikasi ini.

Dengan aplikasi ini, Pritchett melaporkan bahwa pihak berwenang di Indonesia dan Thailand telah mengambil tindakan.

Dukungan pemerintah

Meski sudah ada aplikasi yang dikembangkan untuk menanggulangi perdagangan liar, namun para ahli konservasi terus mengingatkan bahwa dukungan pemerintah sangat penting.

"Tanpa kehendak pemerintah, teknologi tidak akan mengubah apapun," kata Pritchett.

https://sains.kompas.com/read/2018/03/13/170000823/perangi-perdagangan-satwa-liar-ahli-konservasi-pakai-teknologi-tinggi

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke