Awas, Tidur dengan Cahaya Redup Bisa Picu Depresi - Kompas.com

Awas, Tidur dengan Cahaya Redup Bisa Picu Depresi

Kompas.com - 12/03/2018, 20:00 WIB
,Getty Images/Wavebreak Media ,

KOMPAS.com - Tidur dalam keadaan lampu mati atau gelap terbukti dapat membantu memperoleh kualitas tidur yang lebih baik.

Seperti diberitakan Hellosehat.com, faktor kunci dalam mengatur tidur dan jam biologis adalah paparan cahaya.

Cahaya yang diterima mata dapat memberi sinyal pada tubuh untuk menunjukkan waktu tertentu, seperti tidur.

Sementara tidur dalam keadaan lampu menyala dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan. Hal ini karena paparan cahaya pada saat tidur dapat mengganggu hormon dalam tubuh.

Namun, beberapa dari kita masih menggunakan sedikit cahaya atau cahaya remang untuk menemani tidur. Lalu, apakah hal ini juga akan memberi dampak pada tubuh?

Baca juga : 9 Mitos tentang Tidur yang Tak Boleh Anda Percaya Lagi

Sebuah penelitian terbaru yang terbit di American Journal of Epidemiology, Kamis (1/3/2018), membuktikan paparan cahaya meski dalam tingkat sangat rendah sekalipun dapat meningkatkan risiko depresi.

"Tidur dalam kegelapan adalah pilihan tepat untuk mencegah depresi," tulis Kenji Obayashi, profeor di departemen kesehatan masyarakat dan epidemiologi Nara Medical University School of Medicine, Jepang, dilansir Time, Rabu (7/3/2018).

Temuan ini melibatkan 863 orangtua di Jepang yang menggunakan cahaya remang selama dua tahun. Peneliti melakukan pengukuran jarak dari tempat tidur ke sumber cahaya yang masuk dengan menggunakan meteran lampu portabel.

Selama penelitian, peneliti juga mengukur gejala depresi dan menguji pola tidur dan terjaga sepanjang malam.

Dalam hal ini, peneliti memperhitungkan berat badan, kebiasaan merokok dan minum alkohol, serta tingkat penggunaan obat-obatan. Mereka pun mencatat riwayat tekanan darah tinggi, diabetes, dan tingkat aktivitas fisik.

Hasilnya, orang tua yang terpapar lebih dari 5 lux cahaya lampu setiap malam memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi. Ukuran standarnya, 1 lux sama dengan jumlah cahaya yang bersinar dari lilin dengan jarak satu meter dari Anda duduk.

Sebagai perbandingan, ruang keluarga di malam hari memiliki lampu dengan ukuran sekitar 50 lux, sementara jika berada di luar ruangan saat siang hari Anda terpapar cahaya 10.000 sampai 25.000 lux. 5 lux setara dengan paparan cahaya dari lampu jalan yang masuk lewat jendela menerangi kamar tidur yang gelap.

Dalam catatan penelitian, sekitar 150 orang yang menggunakan cahaya lebih dari 5 lux saat tidur menunjukkan peningkatan risiko depresi sampai 65 persen.

Baca juga : Kenapa Anda Merasa Lelah Sepanjang Hari, Padahal Cukup Tidur?

Obayashi mengaku masih belum dapat memastikan apa yang membuat cahaya redup dapat meningkatkan depresi. Namun, dia menduga hal ini berkaitan dengan tidur yang terganggu.

"Melihat cahaya di malam hari juga membuang jam internal tubuh dan mengganggu sekresi melatonin, hormon yang mendorong tidur di kegelapan. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah psikologis," imbuhnya.

Meski penelitian ini dilakukan pada lansia, Obayashi memperingatkan efek yang sama justru akan lebih dirasakan kalangan orang yang lebih muda, sebab matanya lebih sensitif dengan demikian semakin banyak cahaya yang bisa ditangkap.

"Kapasitas penerimaan cahaya redup yang bisa diterima orang tua berusia 70 tahun adalah seperlima remaja," katanya.

Ia berkata mematikan sebanyak mungkin sumber cahaya saat tidur adalah ide yang tepat untuk menghindari masalah ini, berapa pun usia Anda.


Komentar
Close Ads X