Kompas.com - 06/03/2018, 19:35 WIB
Hutan mangrove dan ekosistem pesisir di Desa Torosiaje Kabupaten Pohuwato yang dikembangkan oleh Kelompok Sadar Lingkungan Paddakauang. Eksosistem ini mampu menyimpan karbon lebih banyak dan lebih lama. KOMPAS.COM/ROSYID AZHARHutan mangrove dan ekosistem pesisir di Desa Torosiaje Kabupaten Pohuwato yang dikembangkan oleh Kelompok Sadar Lingkungan Paddakauang. Eksosistem ini mampu menyimpan karbon lebih banyak dan lebih lama.

KOMPAS.com -- Usaha manusia untuk menebus kerusakan pada alam dengan cara melakukan pemulihan ekosistem atau mengenalkan kembali hewan yang mungkin sudah punah secara aktif patut dihargai.   

Namun, sejumlah ilmuwan dari berbagai negara menunjukkan bahwa program pemulihan ekosistem ternyata sulit memulihkan alam yang sudah rusak ke kondisi alaminya.

Indikasi tersebut menunjukkan bahwa cara terbaik untuk menyelamatkan alam mungkin adalah dengan membiarkan bumi memperbaiki kerusakannya secara alami.

Sementara itu, manusia berfokus untuk menjaga keutuhan alam yang masih ada, misalnya dengan mencegah penggundulan hutan, tumpahan minyak mentah, mencegah kerusakan lahan pertanian dan penebangan kayu ilegal.

Baca Juga: Kebakaran Hutan saat Asian Games 2018 Perlu Diantisipasi

Konklusi yang terbit di Proceedings of the Royal Society B, Rabu (28/2/2018) itu ditemukan setelah tim peneliti yang terdiri dari Holly P Jones dan kolega menganalisis data dari 400 penelitian yang membahas tentang konservasi alam.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dilansir dari Sciencealert, Sabtu (3/3/2018), para peneliti mendapati bahwa mencegah kerusakan, seperti menghentikan penggundulan hutan, ternyata memiliki efek yang mirip dengan pemulihan secara aktif.

Namun demikian, para peneliti belum melakukan perbandingan pemulihan aktif dan pasif di lokasi yang sama dan melihat dampaknya terhadap gangguan ekosistem.

Baca Juga: Hutan Ini Jadi Berbunga-bunga karena Perubahan Iklim, Bagaimana Bisa?

Penelitian tentang pemulihan ekosistem secara pasif bukanlah yang pertama kali dilakukan.

Ahli biologi E.O. Wilson yang dikenal sebagai "bapak keanekaragaman hayati", berpendapat bahwa membuat setengah dari planet ini menjadi cagar alam adalah tujuan mulia, seperti yang diberitakan oleh The Guardian.

Tim peneliti tidak akan seambisius Wilson, tetapi mereka menekankan agar kita mengetahui pentingnya sumber daya pemulihan alam kita terbatas dan bisa digunakan semaksimal mungkin.

Jika usaha pemulihan kita tidak bisa lebih cepat dari pemulihan secara alami, maka kita harus fokus mencari cara lain untuk dapat membuat perbedaan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.