Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 01/03/2018, 19:33 WIB
Monika Novena,
Shierine Wangsa Wibawa

Tim Redaksi

Sumber nwf

Jane Goodall, ahli primata, juga mengamati bagaimana seekor simpanse muda bernama Flint berhenti makan setelah kematian ibunya Flo. Ia mati sebulan kemudian.

Di sisi lain, para peneliti hingga saat ini menghindari bahasa emosi, seperti 'bersedih', karena kemampuan peneliti untuk memahami apa yang terjadi dari sudut pandang hewan sangat terbatas.

Alex Piel, ahli biologi primata di Universitas John Moores, Inggris, mempertanyakan apakah suatu makhluk bisa berkabung tanpa gagasan soal kematian. Menurut dia, makhluk harus mengerti soal hidup untuk memahami soal kematian. "Di situlah kita mengalami masalah, kebanyakan hewan, sejauh yang kita tahu, tidak memiliki kesadaran," katanya.

Argumen itu segera disanggah oleh Carl Safina, ahli ekologi di Stony Brook University yang berpendapat bahwa banyak hewan yang mengerti soal kematian. Sebagai contoh adalah predator yang mengerti perbedaan soal hidup dan mari saat mereka berburu.

Untung saja, beberapa tahun terakhir penelitian mengenai hewan yang bersedih mulai marak dilakukan. Teknologi juga membantu, termasuk kamera pemantauan jarak jauh di tempat-tempat perlindungan satwa liar, sehingga lebih banyak peneliti yang memiliki akses terhadap perilaku yang sebelumnya tak banyak diketahui.

Salah satu cara untuk mempelajari kesedihan adalah dengan mengukur tingkat hormon. Hal inilah yang dilakukan oleh Anne Engh, ahli ekologi perilaku ketika mempelajari babon Chacma di Delta Okavango di Botswana.

Salah satu babon betina bernama Sylvia kehilangan anak perempuannya bernama Sierra. Sejak itu, Sylvia lebih banyak menghabiskan waktu sendirian dan menatap kakinya.

Engh meninjau data hormonal Sylvia melalui sampel tinja secara rutin selama sekitar satu tahun. Hasil yang kemudian dilaporkan pada 2006 dalam Proceedings of the Royal Society B menyebutkan jika ada peningkatan signifikan pada hormon stres yang disebut glukokortikoid. Setelah dua bulan, tingkat hormon itu kembali normal.

Baca juga : Berduka, Monyet Jambul Makan Mayat Anaknya Sendiri

Pasca Berkabung

Temuan lain menunjukkan jika setelah kehilangan, babon lebih sering melakukan kontak fisik dengan lebih banyak kawanannya, "Sepertinya mereka secara aktif mencoba untuk membentuk persahabatan baru," kata Engh.

Meski begitu, Engh mengingatkan bahwa tidak semua spesies cocok dengan penelitian kuantitatif semacam ini. Paus misalnya, sulit untuk diteliti tingkat hormonnya ketika berkabung.

Kekurangan ini membuat pertanyaan "Apakah hewan benar merasa berkabung dan sedih?" masih belum bisa sepenuhnya terjawab.

Namun, beberapa pakar menduga jawabannya "Iya".

"Mungkin ini tidak serumit seperti yang kita pikirkan. Mungkin perilaku pada hewan ini memang ada hubungannya dengan rasa duka yang kita rasakan, meskipun tidak sama persis," ujar Giovanni Bearzi, pakar biolog di Dolphin Biology and Conservation Italia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Sumber nwf
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com