Kompas.com - 20/02/2018, 20:07 WIB
Rekonstruksi digital dari gerbang neraka Romawi di Hierapolis. Francesco D’Andria/University of SalentoRekonstruksi digital dari gerbang neraka Romawi di Hierapolis.

KOMPAS.com – Di masa lalu, gerbang neraka Romawi adalah sebuah keajaiban. Dipercaya sebagai jalan menuju alam baka, ia hanya membunuh hewan kurban yang melewatinya, tetapi membiarkan para pendeta yang menuntun hewan tersebut untuk kembali ke rumah masing-masing.

Kini, sebuah studi yang dipublikasikan Archaeological and Anthropological Sciences membuktikan bahwa gerbang neraka sama sekali bukan hal supernatural dan memiliki penjelasan geologi sederhana di baliknya.

Untuk menguak misteri ini, para peneliti berfokus pada situs penting di kota kuno Hierapolis, kini Turki.

Gerbang neraka di kota ini dibangun di atas patahan dalam bumi yang sangat aktif secara geologis. Patahan tersebut mengeluarkan karbon dioksida yang bisa membunuh semua makhluk yang menghirupnya dalam hitungan detik.

Baca juga : Selamat Datang di Pintu Neraka Turkmenistan

Para peneliti berkata bahwa gerbang Hierapolis masih berfungsi hingga saat ini. Pada hari pertama penelitian, mereka menemukan setidaknya dua burung dan 70 kumbang dalam keadaan mati.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mereka kemudian mengukur konsentrasi karbon dioksida pada siang dan malam hari. Ternyata, pada siang hari, awan karbon dioksida menghilang, dan pada malam hari, karbon dioksida mengumpul dan membentuk lapisan tebal di lantai arena. Konsentrasi ini begitu luar biasa hingga bisa membunuh manusia dewasa dalam waktu satu menit.

Akan tetapi, kuncinya ada pada kepadatan. Awan karbondioksida lebih berat daripada udara sehingga mengumpul di permukaan tanah. Artinya, hewan kurban yang kepalanya tidak bisa melewati batas lapisan gas akan segera mati, tetapi para pendeta yang lebih tinggi akan selamat.

Baca juga : Selamat Datang di Tempat Terpanas Bumi Menurut NASA

Hardy Pfanz, pakar biologi gunung api di University of Duisburg-Essen, Jerman, yang menulis studi ini mengatakan kepada Science, mereka (para pendeta) tahu bahwa nafas mematikan dari (anjing penjaga neraka) Kerberos hanya mencapai tinggi tertentu.

Pfanz dan para peneliti juga menduga bahwa para pendeta hanya menuntun hewan kurban pada pagi atau sore hari ketika konsentrasi gas bisa membunuh hewan kurban secara instan.

Selain di Hierapolis, gerbang neraka juga ada di Gua Cape Matapan selatan Yunani, Hellam Township, Pennsylvania, dan Tapir Mountain Nature Reserve di Belize. Mayoritas dari gerbang neraka digunakan untuk ritual pengurbanan, walaupun tidak semuanya membunuh menggunakan karbon dioksida.

Namun untuk gerbang neraka Romawi yang ada di Hierapolis, kini ada penjelasan ilmiahnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Orbit Bumi Berfluktuasi yang Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Orbit Bumi Berfluktuasi yang Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Fenomena
[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

Oh Begitu
5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

Oh Begitu
Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Fenomena
4 Tahapan Siklus Menstruasi

4 Tahapan Siklus Menstruasi

Kita
Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Fenomena
Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Oh Begitu
Terkubur 1.700 Tahun, Vila Romawi Ditemukan di Lahan Pertanian Inggris

Terkubur 1.700 Tahun, Vila Romawi Ditemukan di Lahan Pertanian Inggris

Oh Begitu
Fakta-fakta Kelinci Laut, Siput Tanpa Cangkang yang Mirip Kelinci

Fakta-fakta Kelinci Laut, Siput Tanpa Cangkang yang Mirip Kelinci

Oh Begitu
Perbandingan Varian Omicron dengan Varian Delta, Ahli: Belum Tentu Lebih Berbahaya

Perbandingan Varian Omicron dengan Varian Delta, Ahli: Belum Tentu Lebih Berbahaya

Oh Begitu
Cara Melihat Komet Leonard Sepanjang Desember 2021 Ini

Cara Melihat Komet Leonard Sepanjang Desember 2021 Ini

Fenomena
Misteri Varian Omicron Butuh Waktu Berminggu-minggu untuk Dipecahkan

Misteri Varian Omicron Butuh Waktu Berminggu-minggu untuk Dipecahkan

Oh Begitu
Menurut Sains, Ini 5 Alasan Tidur yang Cukup Penting untuk Diet

Menurut Sains, Ini 5 Alasan Tidur yang Cukup Penting untuk Diet

Oh Begitu
Arti Kata Omicron, Alfabet Yunani yang Jadi Nama Varian Baru Covid-19

Arti Kata Omicron, Alfabet Yunani yang Jadi Nama Varian Baru Covid-19

Oh Begitu
Update Siklon Tropis Nyatoh, Akan Bergerak ke Utara dan Masih Berdampak ke Indonesia

Update Siklon Tropis Nyatoh, Akan Bergerak ke Utara dan Masih Berdampak ke Indonesia

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.