Kompas.com - 03/02/2018, 13:03 WIB
|
EditorGloria Setyvani Putri

KOMPAS.com - Orang yang menderita penyakit mikrotia, kelainan kongenital bentuk telinga yang kurang sempurna seperti daun telinga lebih kecil dari ukuran normal, kini boleh berbahagia dengan temuan pengobatan terbaru.

Itu karena belum lama ini peneliti China mengklaim sukses menumbuhkan telinga yang sempurna bagi pasien mikrotia. Menurut mereka, ini merupakan inovasi dalam pengobatan regeneratif pertama di dunia.

Para ahli melakukan pencangkokan dengan menggunakan sel tulang rawan dari pasien dan kemudian membentuk telinga baru.

Dalam penelitian yang diterbitkan di EBioMedicine, ada lima anak yang sebelumnya menderita mikrotia telah menjalani operasi percobaan.

Baca juga : Telinga Kanan atau Telinga Kiri, Mana yang Lebih Baik dalam Mendengar?

"Seorang anak pertama kali menjalani prosedur pengobatan ini dua setengah tahun lalu. Dalam periode itu, tubuhnya tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan cangkok atau secara tak sengaja menyerap sel baru," tulis peneliti dalam makalahnya seperti dilansir Independent, Rabu (31/1/2018).

Jika banyak pengobatan mikrotia menggunakan telinga palsu atau rekonstruksi tulang rusuk yang hasilnya beragam, maka teknik pencangkokan yang digunakan peneliti China ini menggunakan pemindaian dan mencetaknya dalam bentuk 3D dengan tambahan lubang-lubang kecil.

Saat masih di dalam laboratorium, sel tulang rawan yang diambil dari telinga yang tidak terpengaruh mikrotia digunakan untuk mengisi lubang-kubang kecil pada telinga baru.

Kurang lebih dalam tiga bulan sel-sel tulang rawan akan tumbuh mengisi cetakan dan perlahan memecah cetakan tersebut. Selagi sel masih terus tumbuh, telinga baru kemudian dicangkokkan ke pasien.

"Ini adalah pendekatan yang sangat menarik untuk memulihkan struktur telinga," ujar Tessa Hadlock, ahli bedah plastik rekonstruktif di Massachussetts Eye and Ear Infirmary di Boston.

Baca juga : Telinga Berdengung Bukan Tanda Anda Digosipin, tetapi...

Setelah kelima anak yang menderitta mikrotia dipasangkan telinga baru dan sel-sel tulang rawannya sudah mulai tumbuh, para peneliti tetap memantau mereka setidaknya selama lima tahun untuk mengevaluasi.

Tugas tim peneliti salah satunya memeriksa apakah telinga tetap utuh meski cetakan nantinya pecah, juga memperbaiki prosedur agar menghasilkan telinga yang terlihat alami.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.