Mirip "Game of Thrones", Beginilah Perilaku Bakteri dalam Tubuh Kita - Kompas.com

Mirip "Game of Thrones", Beginilah Perilaku Bakteri dalam Tubuh Kita

Kompas.com - 27/01/2018, 21:06 WIB
Dua koloni bakteri berjuang di media padat menggunakan racun. Setelah mendeteksi serangan yang masuk dari regangan merah, sel-sel strain bawah menyampaikan informasi ini ke bakteri lain di koloni yang menyebabkan serangan kolektif besar-besaran melawan strain merah. Warna hijau menunjukkan produksi toksin. Dua koloni bakteri berjuang di media padat menggunakan racun. Setelah mendeteksi serangan yang masuk dari regangan merah, sel-sel strain bawah menyampaikan informasi ini ke bakteri lain di koloni yang menyebabkan serangan kolektif besar-besaran melawan strain merah. Warna hijau menunjukkan produksi toksin.

KOMPAS.com -- Selama beberapa tahun terakhir, demam Game of Thrones mewabah ke seluruh dunia. Penontonnya yang berasal dari segala golongan usia kecanduan menonton para karakter berebut kekuasaan.

Namun, rupanya plot ini tidak hanya ada di dunia fiksi. Dalam kehidupan nyata, kita pun sering melihatnya, baik antar manusia, binatang, maupun bakteri.

Ya, bakteri yang tinggal dalam tubuh manusia juga melakukan hal yang sama seperti dalam Game of Thrones. Mereka saling menusuk, mendorong, dan meracuni satu sama lain demi mengejar wilayah yang lebih luas.

Sayangnya, masih sedikit yang mengetahui bagaimana perang bakteri terjadi dalam tubuh. Oleh sebab itu, periset asal Universitas Oxford mencoba menjelaskan perilaku bakteri dan telah menerbitkan hasilnya dalam jurnal Current Biology, Kamis (25/1/2018).

Baca juga : Bakteri Ini Ubah Limbah Elektronik Jadi Tambang Emas Murni

Dalam jurnal tersebut, mereka mengungkapkan bahwa bakteri di dalam tubuh memiliki perilaku konflik yang sama seperti tentara saat menanggapi ancaman, yakni dengan pembalasan kolektif yang terkoordinasi.

Untuk memudahkan pengamatan, para peneliti memberi warna hijau neon pada sampel bakteri Escherichia coli yang sedang melakukan pertempuran menegangkan.

Setiap bakteri mengeluarkan toksin tertentu untuk melawan musuhnya. Toksin ini tidak akan menganggu bakteri yang mengeluarkannya, tetapi efektif membunuh musuhnya.

Hubungan saling berkompetisi ini memainkan peran kunci dalam menentukan bakteri mana yang akan menguasai sebuah wilayah, seperti usus manusia.

Dari pengamatan tersebut, peneliti mengungkap bahwa bakteri memiliki cara sendiri untuk berperang. Ada bakteri yang sangat agresif, dan ada pula yang cenderung pasif.

Selain itu, peneliti juga mengamati bahwa beberapa bakteri tidak hanya dapat mendeteksi adanya serangan racun, tetapi mereka juga dapat langsung memperingatkan koloninya terhadap ancaman tersebut.

Sel di tepi koloni akan mendeteksi serangan yang masuk dan berbagi informasi dengan sel yang ada di medan perang. Hal inilah yang dimaksud para peneliti dengan bakteri yang dapat merespons secara kolektif, dengan koordinasi yang baik dan sangat canggih.

Dalam pemberitaan yang dilansir dari Science Daily, Kamis (25/1/2018), penelitian ini diklaim sebagai penelitian pertama dari jenisnya yang mengamati perilaku bakteri.

Baca juga : Dua Bakteri Super dari Antartika Ini Mengubah Cara Kita Mencari Alien 

Kevin Foster yang merupakan profesor biologi evolusioner dari Departemen Zoologi di Universitas Oxford berkata bahwa penelitiannya membuktikan bahwa organisme yang terlihat sederhana ternyata memiliki perilaku dan cara bertahan hidup yang sangat canggih.

"Perilaku bakteri ternyata lebih kompleks dari perkiraan sebelumnya. Bakteri ternyata mirip dengan hewan sosial, seperti lebah madu, tawon, burung, atau mamalia. Mereka memiliki penanda alarm yang berbunyi saat sedang dalam serangan dan mereka mampu menghasilkan serangan yang terkoordinasi," jelas Foster.

Sebagian besar bakteri hidup di dalam tubuh manusia, terutama mikrobioma usus kita. Itu artinya ada perang bakteri yang sedang terjadi di dalam tubuh.

"Penelitian lain sudah membuktikan bahwa toksin penting untuk mengetahui apakah bakteri ada di suatu wilayah dalam tubuh atau tidak. Lewat penelitian ini, kami ingin memahami bagaimana bakteri melepaskan racun dan bersaing dengan bakteri lain. Hal ini penting untuk memahami penyebaran infeksi," jelas Foster.


EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar
Close Ads X