Zulfakriza Z
Peneliti/Dosen
Dosen Teknik Geofisika, FTTM - ITB | Peneliti pada  Kelompok Keahlian Geofisika Global - FTTM - ITB | Pengurus/Anggota Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) 

Mewaspadai Bahaya Laten Gempa Bumi di Selatan Jawa

Kompas.com - 27/01/2018, 19:06 WIB
Pusat gempa pada Selasa (23/1/2018) pukul 13.34 WIB berdasarkan data USGS. GOOGLE EARTH, USGSPusat gempa pada Selasa (23/1/2018) pukul 13.34 WIB berdasarkan data USGS.
EditorShierine Wangsa Wibawa

Pulau Jawa merupakan salah satu wilayah yang strategis bagi Indonesia. Banyak objek-objek vital yang ada di Pulau Jawa, salah satunya adalah Jakarta yang menjadi ibu kota Negara Indonesia. Selain itu, jumlah populasi di Pulau Jawa sangat signifikan.

Berdasarkan proyeksi BPS pada tahun 2017, populasi di Pulau Jawa mencapai 149 juta jiwa, atau 57 persen dari total populasi Indonesia. Kondisi ini menjadikan tingkat risiko yang tinggi jika terjadi gempa bumi, terlebih lagi jika diikuti oleh gelombang tsunami.

Buku Indonesian’s Historical Earthquake yang dipublikasikan oleh Geoscience Australia menceritakan tentang beberapa kejadian gempa bumi yang merusak di masa lampau, khususnya di Pulau Jawa dan sekitarnya. Setidaknya ada delapan kejadian gempa yaitu tahun 1699 (Jawa dan Sumatra), 1780 (Jawa Barat dan Sumatra), 1815 (Jawa, Bali dan Lombok), 1820 (Jawa dan Flores), 1834 (Jawa Barat), 1840 (Jawa Tengah dan Timur), 1847 (Jawa Barat dan Tengah) dan 1867 (Jawa dan Bali).

Catatan kejadian gempa bumi pada masa lalu memberikan pemahaman bahwa kejadian gempa bumi dapat berulang kembali. Hal ini dikarenakan perilaku gempa bumi dapat kembali melepaskan energi dalam rentang waktu puluhan atau ratusan tahun.

Belajar dari kejadian gempa bumi pada hari Selasa, 23 Januari 2018 lalu, banyak masyarakat yang melakukan evakuasi dalam kepanikan. Terlebih lagi bagi warga Jakarta yang beraktivitas pada gedung-gedung bertingkat. Kebanyakan masyarakat berhamburan keluar dari gedung dan berkumpul di pelataran, bahkan di jalan, sesaat gempa terjadi.

Hal ini memberikan indikasi bahwa kesiapan untuk menghadapi kondisi darurat akibat gempa bumi belum ada. Artinya, masih banyak “PR” yang harus dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi risiko gempa bumi di masa yang akan datang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Varian Beta dan Omicron dari Satu Negara, Mengapa Afrika Rawan Munculnya Varian Baru Covid-19?

Varian Beta dan Omicron dari Satu Negara, Mengapa Afrika Rawan Munculnya Varian Baru Covid-19?

Oh Begitu
Pecahkan Rekor, Wahana Antariksa Parker Ada di Jarak Terdekat dengan Matahari

Pecahkan Rekor, Wahana Antariksa Parker Ada di Jarak Terdekat dengan Matahari

Oh Begitu
BMKG: Bibit Siklon Tropis 94W di Perairan Kamboja Pengaruhi Cuaca Indonesia

BMKG: Bibit Siklon Tropis 94W di Perairan Kamboja Pengaruhi Cuaca Indonesia

Fenomena
Nikel Indonesia Guncang Dunia, Ini Tanaman Penambang Nikel di Sorowako Sulsel

Nikel Indonesia Guncang Dunia, Ini Tanaman Penambang Nikel di Sorowako Sulsel

Oh Begitu
Ada Varian Baru Omicron, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Ada Varian Baru Omicron, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.