Kompas.com - 18/01/2018, 21:05 WIB
Monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) difoto di Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus, Sulawesi Utara, Minggu (19/2/2017). Sebagai salah satu primata dengan populasi terancam di dunia, perburuan monyet hitam Sulawesi untuk dijual sebagai santapan masih tinggi. AFP PHOTO / BAY ISMOYOMonyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) difoto di Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus, Sulawesi Utara, Minggu (19/2/2017). Sebagai salah satu primata dengan populasi terancam di dunia, perburuan monyet hitam Sulawesi untuk dijual sebagai santapan masih tinggi.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa


KOMPAS.com - Seringkali kita berdebat saat mengambil keputusan atau memecahkan masalah. Hal ini rupanya tak hanya terjadi pada manusia.

Monyet makaka pun melakukan hal yang sama, seperti yang dipaparkan oleh para peneliti ari Universitas Princeton, Universitas Maryland, dan Institut Santa Fe dalam Science Advances, Rabu (17/1/2018).

Para peneliti sebetulnya ingin memahami bagaimana dan mengapa struktur kekuasaan dalam kelompok primata bermanfaat bagi kelompoknya.

Untuk itu, mereka menggunakan perhitungan kolektif dengan kerangka kerja berbasis matematika untuk mempelajari bagaimana sistem adaptif menyelesaikan masalah.

Baca juga : Seks Tak Masuk Akal antara Monyet dan Rusa Rupanya Umum, Kok Bisa? 

Hasilnya, mereka berhasil membuktikan bahwa primata juga membutuhkan waktu untuk merenungkan masalah dan mengambil keputusan.

Misalnya saat mereka dihadapkan dengan monyet lain untuk bertarung, mereka akan memperkirakan seberapa besar kekuatan saingannya sebelum memutuskan untuk bertarung atau menyerah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ini merupakan sesuatu yang penting bagi monyet karena hasil pertarungan akan menunjukkan siapa yang paling kuat.

Meski telah diketahui bahwa biasanya perilaku kelompok biasanya ditentukan oleh keputusan individu yang berada di dalamnya, tetapi ada hal yang tidak dipahami terkait bagaimana keputusan yang diambil nantinya dapat memberi keuntungan untuk kelompok.

Baca juga : Berduka, Monyet Jambul Makan Mayat Anaknya Sendiri 

Temuan para peneliti menunjukkan bahwa saat seekor monyet menolak untuk mundur dari pertarungan, hal itu akan berdampak bagi kelompoknya.

Menolak menyerah disebut memberi waktu yang lebih lama untuk membuat keputusan dan memahami kekuatan pesaing. Dengan demikian, keputusan monyet untuk bertarung atau mundur akan lebih akurat.

Artinya, dalam beberapa kondisi, konflik kepentingan individu sebenarnya bisa memberi manfaat bagi semua orang.

Bukannya menciptakan ketidakstabilan, para peneliti berpendapat bahwa bahwa keengganan untuk mundur dari pertarungan dapat menyebabkan semacam refleksi yang diperlukan untuk memecahkan masalah dengan benar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber Inverse
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lawan Omicron, Antibodi Penetralisir Vaksin Pfizer Turun 41 Kali Lipat

Lawan Omicron, Antibodi Penetralisir Vaksin Pfizer Turun 41 Kali Lipat

Oh Begitu
Peringatan Dini BMKG: Gelombang Tinggi Ekstrem dan Air Pasang Maksimum di Pesisir

Peringatan Dini BMKG: Gelombang Tinggi Ekstrem dan Air Pasang Maksimum di Pesisir

Fenomena
Banjir Rob di Manado, Ini Daftar Wilayah Berpotensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Banjir Rob di Manado, Ini Daftar Wilayah Berpotensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Banjir Rob di Manado, BMKG Sebut Penyebabnya Air Pasang, Ombak, dan Gelombang Tinggi

Banjir Rob di Manado, BMKG Sebut Penyebabnya Air Pasang, Ombak, dan Gelombang Tinggi

Fenomena
7 Cara Tumbuhan Mempertahankan Diri

7 Cara Tumbuhan Mempertahankan Diri

Oh Begitu
WHO: Dampak Pandemi, Kematian akibat Malaria Naik 69.000 pada 2020

WHO: Dampak Pandemi, Kematian akibat Malaria Naik 69.000 pada 2020

Oh Begitu
5 Manfaat Bermain Video Game yang Terbukti secara Ilmiah

5 Manfaat Bermain Video Game yang Terbukti secara Ilmiah

Oh Begitu
Peneliti di China Ciptakan Plastik Ramah Lingkungan dari Sperma Ikan Salmon

Peneliti di China Ciptakan Plastik Ramah Lingkungan dari Sperma Ikan Salmon

Oh Begitu
5 Hewan yang Bisa Melihat Tanpa Mata

5 Hewan yang Bisa Melihat Tanpa Mata

Oh Begitu
Viagra Berpotensi Menjadi Obat untuk Penyakit Alzheimer, Kok Bisa?

Viagra Berpotensi Menjadi Obat untuk Penyakit Alzheimer, Kok Bisa?

Oh Begitu
Ilmuwan Sebut Vaksin Covid-19 Beda Merek Terbukti Tingkatkan Imunitas

Ilmuwan Sebut Vaksin Covid-19 Beda Merek Terbukti Tingkatkan Imunitas

Oh Begitu
Studi: Plankton Bantu Terbentuknya Pegunungan di Bumi, Kok Bisa?

Studi: Plankton Bantu Terbentuknya Pegunungan di Bumi, Kok Bisa?

Fenomena
Epidemiolog Setuju PPKM Level 3 Serentak Dibatalkan, Apa Alasannya?

Epidemiolog Setuju PPKM Level 3 Serentak Dibatalkan, Apa Alasannya?

Kita
[POPULER SAINS] Pandemi Selanjutnya Disebut Lebih Parah dari Covid-19 | Daftar Wilayah Berpotensi Banjir

[POPULER SAINS] Pandemi Selanjutnya Disebut Lebih Parah dari Covid-19 | Daftar Wilayah Berpotensi Banjir

Oh Begitu
Pukul 21.00, Puncak Hujan Meteor Puppid-Velid Hiasi Langit Indonesia

Pukul 21.00, Puncak Hujan Meteor Puppid-Velid Hiasi Langit Indonesia

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.