Rahasia Mematikan Malaria Terungkap, Bisa Jadi Jalan untuk Vaksin Baru

Kompas.com - 06/01/2018, 20:04 WIB
malaria p.vivax/ watodaymalaria p.vivax watoday malaria p.vivax/ watoday

KOMPAS.com - Penyakit malaria masih menjadi momok bagi dunia kesehatan manusia. Pasalnya, vaksin malaria yang ada sekarang belum sepenuhnya membersihkan parasit di dalam sel darah.

Lebih dari 70 tahun para ilmuwan berjibaku untuk memahami karakter salah satu jenis parasit malaria, Plasmodiumm Vivax. Malaria jenis ini merajalela di wilayah Asia Pasifik, khususnya Papua Niugini, dan termasuk nomor dua paling ganas di dunia.

Parasit ini hanya menyerang sel darah merah termuda dan bisa "mati suri" selama bertahun-tahun tanpa terdeteksi. Ini adalah ciri khusus yang membedakannya dengan malaria jenis lain, seperti Plasmodium falciparum.

Menurut WHO, malaria adalah parasit di dalam darah yang disebarkan oleh nyamuk. Pada tahun 2015, tercatat sekitar 8,5 juta kasus malaria terjadi di seluruh dunia dan 3100 di antaranya berakhir dengan kematian.

Namun, tampaknya teror ini akan segera berakhir. Dua tim peneliti di Australia meyakini telah memecahkan misteri parasit malaria tersebut dan akan mengembangkan vaksin yang berpotensi mematikannya.

"Pada dasarnya, dari sudut pandang sains dasar, saya pikir kita telah menjawab salah satu misteri besar," kata Wai-Hong Tham dari Walter and Eliza Hall Institute yang memimpin salah satu tim.

Hal senada juga dikatakan Profesor James Beeson dari Burnet Institute di Melbourne yang secara kebetulan meneliti jenis nyamuk yang sama dengan Tham.

Baca Juga: Pemasangan Kelambu dan Penyemprotan Jadi Andalan Cegah Malaria

Tham menggunakan synchrotron, sebuah alat akselerator partikel seukuran lapangan sepak bola yang berlokasi di Tenggara Melbourne milik Australian Synchrotron, untuk mempelajari perilaku Plasmodium vivax.

Alat canggih ini mampu membuat gerak partikel mendekati kecepatan cahaya dan memaksanya memancarkan cahaya yang sangat kuat. Oleh karena itu, alat ini dapat digunakan untuk pencitraan objek yang ukurannya sangat super kecil.

Profesor Tham ingin mengamati bagaimana parasit membentuk protein yang digunakannya untuk menginfeksi sel.

"Mikroskop optik biasanya tidak beresolusi tinggi, tetapi kami membutuhkan resolusi atomik," katanya seperti dikutip dari Watoday, Jumat (5/1/2018).

Peneliti mengetahui perilaku parasit terlihat mencari "kait" pada sel darah merah termuda untuk mencari zat besi di dalamnya. Sebab, protein dari sel darah merah termuda ini cocok dengan protein yang diproduksi parasit.  Hal ini membuat kait dari parasit bisa menempel ke tepi sel tanpa merusak zat besi dalam darah.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorShierine Wangsa Wibawa
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X