Kompas.com - 22/03/2017, 21:16 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

TIMIKA, KOMPAS.com - Walau pemerintah menargetkan seluruh wilayah Indonesia bebas malaria pada 2030, tetapi Papua termasuk dalam provinsi yang belum dinyatakan bebas malaria.

Provinsi lain yang juga belum bebas malaria ada di Indonesia timur dan termasuk endemis tinggi, yakni Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Kini, baru 232 dari 514 kabupaten atau kota di Indonesia berstatus eliminasi malaria.

Khusus di Timika, Kabupaten Papua, penyakit malaria termasuk dalam penyakit nomer satu di semua fasilitas kesehatan di Mimika. Setiap tahun, lebih dari 80.000 kasus malaria terdiagnosis di kabupaten tempat perusahaan tambang terbesar PT.Freeport Indonesia ini beroperasi.

Untuk mencegah penyakit malaria di Kabupaten Mimika, sejak tahun 2013 dilakukan program penyemprotan insektisida (Indoor Resedual Spraying) dan pemasangan kelambu oleh tim dari Malaria Center Kota Timika.

"Kami tidak sekadar membagikan kelambu tapi juga memasangnya. Kalau tidak langsung dipasang nanti kelambunya disalah gunakan, misalnya untuk menangkap ikan," kata Iswandy, supervisor Malaria Center saat menerima kunjungan media di Timika (22/3/2017).

Pemasangan kelambu itu mendapat bantuan dari WHO sebanyak 18.000 kelambu. Meski demikian, menurut Iswandy penyemprotan dinding rumah dianggap lebih efektif untuk melindungi dari gigitan nyamuk malaria.

"Walau kelambunya juga khusus dan sudah diberi insektisida tapi perlindungannya hanya di tempat tidur saja. Sedangkan kalau dinding rumah disemprot, nyamuknya bisa mati karena sebelum menghisap biasanya mereka hinggap di dinding. Satu rumah bisa terbebas dari nyamuk," katanya.

Cara tersebut dianggap efektif untuk memutus rantai penularan malaria. Data dari Malaria Center Timika mengungkap, sejak program tersebut dijalankan di tahun 2013, terjadi penurunan pasien yang menderita malaria di RS Mitra Masyarakat Timika sampai 53 persen.

Lusia Kus Anna Pasukan penyemprotan dalam rumah utk cegah malaria dari Malaria Center
Dalam survei berupa pemeriksaan darah pada 7.036 orang di tahun 2014, ditemukan 12,3 persen positif malaria. Sementara di tahun 2015, dari 8.220 yang disurvei, ada 4,48 persen yang positif. Di 2016 sampai bulan September dari 5.259 ada 7,3 yang positif.

Malaria Center merupakan bagian dari program CSR PT. Freeport Indonesia melalui Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) di bidang kesehatan.

Di Timika, ada tiga tim pencegahan malaria, yakni Tim Freeport yang memiliki area kerja di pinggiran kota. Tim malaria di dalam kota, yang merupakan daerah padat penduduk, dan tim dari LPMAK di daerah pantai.

Selain pemasangan kelambu dan penyemprotan, Malaria Center juga aktif melakukan sosialisasi dan bekerja sama dengan Puskesmas melakukan pengobatan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.