Stupa Tertinggi Borobudur Akan Dipasang Lagi, Ini Kata Arkeolog - Kompas.com

Stupa Tertinggi Borobudur Akan Dipasang Lagi, Ini Kata Arkeolog

Kompas.com - 02/01/2018, 20:02 WIB
Bhikkhu Badraphalo saat berada di area Candi BorobudurDok CERITALAH ASEAN Bhikkhu Badraphalo saat berada di area Candi Borobudur


MAGELANG, KOMPAS.com -- Pengelola candi Borobudur berencana untuk memasang kembali bagian stupa tertinggi yang disebut chattra. Rencana ini telah mendapat izin dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Seorang arkeolog, Marsis Sutopo, menjelaskan bahwa chattra diduga sudah ada sejak candi Borobudur dibangun pada zaman dinasti Syailendra abad ke-9 silam.

Sayangnya, chattra dan candi Borobudur rusak sebelum kemudian dipugar oleh seorang warga Belanda, Van Erp, sekitar tahun 1907-1911.

"Ibarat Masjid, chattra itu seperti kubah, atau bagian dari candi yang dahulu hanya dimanfaatkan untuk beribadah umat Buddha. Karena ada bencana alam dan sebagainya, candi Borobudur rusak, termasuk chattra," jelas Marsis di Borobudur, Sabtu (30/12/2017).

Baca juga : Teliti Jejak Prasejarah Gunung Kidul, Arkeolog Pindai Gua Braholo

Ketika dipugar, Van Erp menemukan batu-batu yang diduga sebagai bagian dari chattra. Dia kemudian menyusun dan memasang batu-batu tersebut di puncak stupa tertinggi candi Borobudur. Namun, Van Erp menurunkan lagi chattra itu karena dia ragu.

Van Erp yang bukan arkeolog tetap berusaha menjaga keaslian struktur candi saat dalam proses pemugaran candi Borobudur.

"Van Erp ragu-ragu, apakah itu benar chattra atau tidak. Dia lantas membongkarnya lagi, kemudian batu-batu itu sampai kini tersimpan di museum Karmawibangga di Komplek Candi Borobudur," ulas Marsis, mantan Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB) itu.

Menurut Marsis, di negara seperti India dan Myanmar masih banyak ditemukan candi dengan bentuk-bentuk chattra.

Dia menambahkan, ada beberapa pihak yang menginginkan chattra tersebut dikembalikan ke posisi semula, yakni di atas stupa.

Meski begitu, untuk mengembalikan chattra ke tempat semula perlu pengkajian lebih mendalam oleh para ahli. Sebab, candi Borobudur adalah warisan dunia sehingga ada hal yang perlu dijaga, yaitu integritas dan keasliannya.

Baca juga : Mengapa Festival Rock Dilarang di Candi Prambanan?

"Jadi, kalau mau memasang chattra harus diperhatikan cara pemasangannya, tidak asal dipasang atau rekonstruksi. Kalau hal itu memenuhi prinsip pemugaran, maka secara teknisnya juga harus terpenuhi, supaya nanti aman bagi pengunjung," jelasnya.

Marsis menambahkan, seorang guru arkeolog bernama Prof Dr Mundardjito, pernah mengulas tentang chattra candi Borobudur dalam bukunya yang berjudul Borobudur: Masalah Puncak Stupa Induk dalam 100 tahun Pascapemugaran Candi Borobudur - Trilogi I: Menyelamatkan Kembali Candi Borobudur.

Dalam ulasannya, Prof Mundardjito menyimpulkan bahwa tidak boleh menambah atau mengurangi struktur atau bagian candi dengan alasan apapun jika tidak punya data yang jelas.

Kata Kemendikbud

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan tidak ada masalah jika chattra dipindah atau dipasang lagi di puncak stupa candi Borobudur. Banyak pihak yang meminta supaya chattra dikembalikan ke posisi semula.

"Memang banyak pihak, terutama tokoh-tokoh agama Buddha yang tidak hanya Indonesia tetapi tokoh agama Internasional, meminta supaya chattra itu dikembalikan. Semakin cepat semakin baik. Dari Kemendikbud sudah tidak ada masalah, secara teknis tinggal ditindaklanjuti saja," katanya, usai menghadiri "Borobudur Cultural Feast 2017" di halaman parkir Taman Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Sabtu (30/12/2017) sore.

Baca juga : Pohon Raksasa Ditemukan di Borneo, Tingginya Dua Kali Candi Prambanan

Namun sebelum itu, mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu meminta agar dikonsultasikan dulu dengan para pakar yang memahaminya.

Hal itu mengingat ada nilai-nilai keagamaan yang terkait dengan chattra tersebut. Dia berpesan supaya pemasangannya diatur dengan baik sebagai bagian dari candi Borobudur yang tidak terpisahkan.

"Saya berpesan karena ada nilai keagamaannya, ritusnya, ada ritualnya, ada makna di baliknya. Jangan sampai nanti disalahpahami oleh berbagai pihak. Niat baik belum tentu hasilnya baik kalau tidak dilakukan dengan baik juga," ungkapnya.


EditorGloria Setyvani Putri
Komentar
Close Ads X