Kompas.com - 26/12/2017, 19:40 WIB
Seorang anak tengah beribadah di pura kecil yang dekat dengan tempat pengungsian. KOMPAS.com/AMBARANIE NADIASeorang anak tengah beribadah di pura kecil yang dekat dengan tempat pengungsian.
|
EditorResa Eka Ayu Sartika

KOMPAS.com - Religiusitas biasanya dihubungkan dengan hidup lebih sehat dan lebih lama dibandingkan atheis. Hal ini sempat membingungkan para peneliti selama beberapa waktu.

Kini para ilmuwan sosial mungkin telah menemukan alasannya. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Evolutionary Psychological Science menyebut bahwa orang ateis dihubungkan dengan gen mutan.

"Mungkin hubungan positif antara agama dan kesehatan bukanlah kausal. (Dengan kata lain,) bukan karena religius yang membuat Anda kurang stres sehingga kurang sakit," ungkap Edward Dutton dari the Ulster Institute for Social Research dikutip dari Newsweek, Sabtu (23/12/2017).

"Sebaliknya, orang-orang religius adalah populasi sisa-sisa genetik normal dari masa pra-revolusi industri, dan kebanyakan kita semua adalah mutan yang biasanya meninggal sebagai anak-anak saat itu," sambungnya.

Baca juga: Benarkah Orang Kidal Cenderung Ateis?

Menurut Dutton, perubahan norma masyarakat tercermin dalam genetika kita. Menurut seleksi alam, perilaku di suatu spesies akan bekerja untuk meningkatkan kemungkinan kelangsungan hidupnya.

Oleh karena itu, penyimpangan sosial terkadang terkait dengan mutasi genetik yang tidak tepat. Dutton menyebut sejak revolusi industri, pertahanan seleksi alam terhadap kemanusiaan melemah.

"Kita mengembangkan perawatan medis yang lebih baik dan lebih baik lagi, akses makanan sehat lebih mudah dan kondisi kehidupan yang lebih baik. Kematian anak jadi turun sampai ke tingkat yang sangat kecil, ini membuat semakin banyak orang dengan gen mutan bertahan sampai dewasa dan memiliki anak,"kata Dutton.

Dutton menyebut Ateisme dulu adalah penyimpangan norma, namun makin lama makin jadi umum. Hal ini terjadi karena gen yang tidak sesuai (bermutasi) tetap dapat tumbuh dan bahkan menjadi sesuatu yang normal.

Untuk penelitian ini, Dutton dan koleganya menguji kecenderungan kidal pada orang religius dan ateis. Kidal adalah penanda dari mutasi gen yang lebih tinggi.

Para peneliti kemudian menemukan bahwa tingkat kidal yang lebih tinggi pada penganut ateisme daripada penganut kebanyakan agama besar.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.