Manfaatkan Virtual Reality, Para Ilmuwan Ini Pelajari Sel Kanker

Kompas.com - 19/12/2017, 19:00 WIB
Pewarta Kumparan, Johanes Hutabarat (23), mencoba kacamata virtual reality (VR) yang akan digunakan untuk melihat pesta rakyat Selametan Jakarta usai pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin (16/10/2017). KOMPAS.com/NURSITA SARIPewarta Kumparan, Johanes Hutabarat (23), mencoba kacamata virtual reality (VR) yang akan digunakan untuk melihat pesta rakyat Selametan Jakarta usai pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin (16/10/2017).
|
EditorResa Eka Ayu Sartika

KOMPAS.com - Pernahkah Anda membayangkan berjalan-jalan di dalam replika virtual sel tubuh Anda menggunakan teknologi virtual reality? Teknologi yang sebelumnya digunakan dalam beberapa permainan itu, kini digunakan untuk penelitian sel kanker.

Penelitian menggunakan teknologi tersebut dijalankan oleh para peneliti di University of New South Wales, Australia. Mereka menciptakan teknologi inovatif ini untuk mempelajari secara detail sel kanker pada tubuh manusia.

Profesor asosiasi, John McGhee adalah orang yang menjalankan laboratorium Estetika Visualisasi 3D, tempat teknologi tersebut dikembangkan.

"Kami mengambil data dari scan PET pasien untuk memvisualisasikan data," kata Prof McGhee dikutip dari ABC News, Selasa (19/12/2017).

Baca juga: Teknologi Grafis Film Harry Potter Bantu Ilmuwan Pahami Struktur Otak

Dengan teknologi permainan 3D ini, para peneliti mengubah data menjadi bentangan realitas virtual yang interaktif.

"Anda tidak lagi melihat sesuatu di layar, melainkan melihat sesuatu dengan cara yang benar-benar nyata dengan sebuah perangkat, jadi, ini seperti jika Anda berjalan-jalan di dalam sel," ungkap Prof McGhee.

"Ini akan membantu proses penemuan ilmiah, karena kita dapat melihat bagaimana sel berperilaku dengan cara yang belum pernah dilakukan," imbuhnya.

Di masa depan, para pasien kanker bisa melihat versi virtual dirinya sendiri. Dengan cara ini, mereka bisa melacak di mana perawatan obat berakhir di tubuh mereka.

Profesor Maria Kavallaris dari Children's Cancer Institute yang mengambil bagian dalam penelitian ini menyebut hal ini akan membantu para dokter dan pasien.

"Anda bisa membayangkan bahwa Anda mungkin pergi ke dokter dan di bawa berjalan-jalan ke tubuh Anda, melihat visualisasi di mana letak penyakit dan apa pilihan perawatan potensialnya," ungkap Prof Kavallaris.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X