Kompas.com - 10/12/2017, 20:30 WIB
|
EditorMichael Hangga Wismabrata

Hal ini memancing seorang pedagang bernama Jeronimus Cornelisz yang terkenal tamak  untuk  mengambil alih kapal dan melakukan serangkaian pembunuhan. Tak terkecuali perempuan dan anak-anak.

Kekejian baru berakhir setalah Pelsaert kembali ke kapal dan akhirnya melumpuhkan Cornelisz dan para pemberontak pengikut Cornelisz dieksekusi.

Tapi semuanya sudah terlambat. Dari 282 penumpang, total ada 115 orang yang meninggal dan kebanyak diantaranya dibunuh. Pulau Beacon pun mendapat julukan Kuburan Batavia atau "Pulau Pembantaian". 

Bagi Jeremy Green, kepala arkeologi maritim di Museum Western Australian, hal tersebut mengundang tanya. "Ini cerita yang cukup aneh, bukan? Saya belum pernah membaca sesuatu yang seburuk itu,"kata pria yang sudah mempelajari bangkai kapal Batavia selama lebih dari 40 tahun. 

Penelitian mengenai kapal ini memang sudah dilakukan oleh para arkeolog selama beberapa dekade. Dalam rentang waktu tersebut beberapa korban kapal ditemukan.

Pada akhir 1980an, nelayan di Pulau Beacon menggali saluran pembuangan dari kamar mandi dan mereka menemukan tulang manusia. Lantas pada tahun 1994, arkeolog mulai menggali situs tersebut dan menemukan tiga kerangka orang dewasa, remaja, anak kecil serta bayi.

"Sebanyak 10 individu telah ditemukan di bagian utama pulau Beacon dalam tiga tahun terakhir. Ini memberikan informasi baru yang berharga," kata Daniel Franklin  arkeolog dari University of Western Australia dikutip dari National Geographic, Kamis (7/12/2017).

Baca juga : Menyingkap Misteri Kapal VOC yang Karam dalam Perjalanan ke Batavia

Rencana lain untuk meneliti tragedi kapal Batavia juga diungkapkan oleh Liesbeth Smits, antroplog dari University of Amsterdam.

Ia berencana mengukur komposisi elemen makanan pada kerangka yang baru ditemukan dan mengetahui apa yang dimakan korban. Dengan menggunakan teknik ini, ia berharap dapat melacak asal penumpang. Banyak penumpang Batavia ternyata tidak hanya berasal dari Belanda saja namun juga Skandinavia, Inggris, Prancis dan Jerman.

Seperti diketahui, tahun 1620-an, Eropa berada dalam pergolakan Perang Tiga Puluh Tahun yang mengerikan. Belanda juga masih berjuang dalam perang kemerdekaannya selama beberapa dekade melawan Spanyol.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.