Kompas.com - 29/11/2017, 19:06 WIB
Ilustrasi asma LeventKonukIlustrasi asma
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com - Penyakit asma kerap dikaitkan dengan kesulitan bernapas, batuk, bahkan ada yang sampai nafasnya berbunyi "ngik" saat asma kambuh.

Bila Anda pernah merasakan hal yang sama atau sudah didiagnosis memiliki asma, ada baiknya untuk memastikan ulang kepada dokter dan menjalani sejumlah tes.

Pasalnya, penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Association pada awal tahun ini menyebutkan bahwa satu dari tiga orang yang didiagnosis memiliki asma, ternyata mendapat diagnosis yang salah.

BACA: Anak Memiliki Asma Cenderung Obesitas

Artinya, pasien tersebut sebenarnya tidak memiliki asma, tetapi mengalami gangguan pernapasan karena alergi atau penyakit radang.

Oleh sebab itu, dibutuhkan pemeriksaan menyeluruh agar diagnosisnya akurat, seperti tes spirometri untuk mengukur secara objektif kapasitas atau fungsi paru-paru dan tes pernapasan yang disebut FeNO untuk memeriksa kadar oksida nitrat sebagai indikator saluran pernapasan yang meradang.

"Penelitian ulang pada orang dewasa yang didiagnosis memiliki asma menunjukkan bahwa 30 persen tidak memiliki tanda-tanda asma yang jelas. Mungkin beberapa pasien pernah menderita asma di masa lalu, tapi kemungkinan besar banyak diagnosis yang salah," ujar anggota NHS seperti dikutip Telegraph, Rabu (29/11/2017).

Sebagai catatan, obat yang diberikan untuk penderita asma memiliki efek samping, seperti kram otot, infeksi tenggorokan, tremor, muntah, dan mual.

"Tidak ada tes dengan standar tinggi yang dapat melakukan diagnosis pasti. Hal ini bisa membuat orang-orang mendapat perawatan yang sebetulnya tidak mereka butuhkan," ujar Dr Andrew Menzies-Gow konsultan pengobatan pernapasan di Royal Brompton and Harefield NHS Foundation Trust sekaligus wakil ketua National Institute for Health and Care Excellence (Nice).

BACA: 2 Pencetus yang Wajib Dihindari Penderita Asma

Peringatan ini disambut baik oleh kepala eksekutif Asthma UK, Kay Boycott yang berkata bahwa ada banyak orang yang didiagnosis memiliki asma harus mengonsumsi obat yang tidak diperlukan tubuh dan mengalami efek samping.

"Dokter juga perlu memantau apakah gejala dapat membaik sebelum melakukan diagnosis. Hal ini agar pengobatan efisien, karena 40 persen pasien asma tidak menanggapi pengobatan awal," ujar Boikot.

Dengan adanya peraturan ini, maka ada kejelasan yang mewajibkan dokter untuk melakukan serangkaian tes objektif. Semoga hal ini tidak hanya dilakukan di Inggris, tetapi juga di Indonesia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Telegraph
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Oh Begitu
Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

Oh Begitu
Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Kita
Fakta-fakta Supervolcano, Salah Satunya Ada di Indonesia

Fakta-fakta Supervolcano, Salah Satunya Ada di Indonesia

Fenomena
Ramai Ikutan Jual Foto NFT seperti Gozali, Psikolog: Ini Efek Pandemi Covid-19

Ramai Ikutan Jual Foto NFT seperti Gozali, Psikolog: Ini Efek Pandemi Covid-19

Oh Begitu
5 Fakta Planet Kepler-186F, Planet Asing yang Mirip Bumi

5 Fakta Planet Kepler-186F, Planet Asing yang Mirip Bumi

Oh Begitu
Ilmuwan Ungkap Dua Faktor Genetik yang Sebabkan Hilangnya Bau dan Rasa akibat Covid-19

Ilmuwan Ungkap Dua Faktor Genetik yang Sebabkan Hilangnya Bau dan Rasa akibat Covid-19

Oh Begitu
Bagaimana Cicak Bisa Menempel di Dinding? Ini Penjelasannya

Bagaimana Cicak Bisa Menempel di Dinding? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
9 Obat Herbal Stroke yang Ampuh Bantu Kembalikan Fungsi Otak

9 Obat Herbal Stroke yang Ampuh Bantu Kembalikan Fungsi Otak

Kita
Orang yang Terinfeksi Omicron Bisa Menyebarkan Virus hingga 10 Hari

Orang yang Terinfeksi Omicron Bisa Menyebarkan Virus hingga 10 Hari

Oh Begitu
Memahami Cara Kawin Nyamuk Bisa Bantu Perangi Malaria

Memahami Cara Kawin Nyamuk Bisa Bantu Perangi Malaria

Oh Begitu
Mengenal PCI Jantung, Prosedur Medis untuk Penyakit Jantung Koroner

Mengenal PCI Jantung, Prosedur Medis untuk Penyakit Jantung Koroner

Kita
Usai Foto Selfie Ghozali, Ramai Jual NFT Foto KTP dan Tubuh Tanpa Busana, Ini Kata Psikolog Sosial

Usai Foto Selfie Ghozali, Ramai Jual NFT Foto KTP dan Tubuh Tanpa Busana, Ini Kata Psikolog Sosial

Oh Begitu
Laporan Awal Sebut Vaksin Dosis Keempat di Israel Kurang Ampuh Tangkal Omicron

Laporan Awal Sebut Vaksin Dosis Keempat di Israel Kurang Ampuh Tangkal Omicron

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.