Kompas.com - 22/11/2017, 19:33 WIB
Sebuah bangunan komersial di kota Kananga, Provinsi Leyte, Filipina tengah ambruk akibat gempa berkekuatan 6,5 skala Richter, Kamis (6/7/2017). Sedikitnya dua orang tewas dan sejumlah orang masih terperangkap di dalam puing bangunan. Queene Joy Reforzado via RapplerSebuah bangunan komersial di kota Kananga, Provinsi Leyte, Filipina tengah ambruk akibat gempa berkekuatan 6,5 skala Richter, Kamis (6/7/2017). Sedikitnya dua orang tewas dan sejumlah orang masih terperangkap di dalam puing bangunan.
|
EditorGloria Setyvani Putri

Bersama Bilham, dirinya pempelajari dan mengelompokan peristiwa gempa bumi berdasarkan skala dan kurun waktunya.

Hasil statistik menunjukkan bahwa gempa dengan kekuatan skala 7,0 atau lebih yang berulang dalam kurun waktu antara 20 sampai 70 tahun kerap terjadi bersamaan setiap tiga dekade sekali.

Hal ini, kata Bendick, menunjukkan bahwa kejadian dengan interval yang berulang lebih sering terjadi bersamaan daripada acak, dan pola ini signifikan secara statistik.

"Saya mengakui bahwa kesimpulan tersebut kurang menarik, dan lebih menarik bila dikatakan peneliti tahu kapan gempa akan terjadi. Tapi itu geofisika untuk Anda," katanya.

Berikutnya, Bendick dan Bilham juga mencari tahu mengapa gempa tersebut berkumpul dengan mempelajari korelasi antara fenomena global dengan peristiwa gempa yang terjadi dalam waktu yang sama, misalnya dengan fenomena mencairnya es di kutub, perubahan sirkulasi laut, perpindahan momentum antara inti bumi dan litosfer.

Baca juga: Apakah Erupsi Kerinci Terkait Gempa Bumi?

Sama seperti ahli geofisika dari Rusia, Boris Levin dan Elena Sasorova; Bilham dan Bendick menemukan mekanisme yang menghubungkan rotasi dan gugusan gempa di bumi.

Bendick menjelaskan saat rotasi bumi berubah, bentuknya turut bergeser seperti rok penari. Ketika rotasi bumi melambat, yakni setiap 30 tahun sekali, mayoritas massa bergerak ke arah kutub. Sebaliknya, ketika bumi berputar lebih cepat, mayoritas massa bergerak ke khatulistiwa.

Perubahan ini memang hanya sekitar satu milimeter, tetapi energi potensial yang terkumpul pada patahan bumi dapat menimbulkan gempa bumi dahsyat.

Nah, menurut Bilham dan Bendick, bumi kini telah sampai di penghujung periode perlambatannya; dan statistik mereka menunjukkan bahwa hal ini berarti gugusan gempa sedang mendekat.

Namun, hal tersebut tidak berarti 2018 akan menjadi tahun gempa yang menghancurkan.

Bendick dan Bilham berkata bahwa penelitian mereka menganalisis daerah-daerah yang memang rawan gempa, seperti Jepang, Selandia Baru, Pantai Barat Amerika Serikat. Bagi orang-orang yang tinggal di daerah tersebut, selalu ada risiko gempa yang harus dipersiapkan.

Lagipula, studi mereka adalah tentang probabilitas, bukan prediksi, ujar Bendick kembali mengingatkan. Perlambatan rotasi bumi bukan berarti gempa pasti akan terjadi pada tahun depan, tetapi kemungkinan terjadinya gempa akan meningkat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.