Verrianto Madjowa
Penulis

Pengamat kelautan dan perikanan. Menulis buku tentang Kelautan dan Perikanan, Bunaken, Tambang (2001), Open Data Pemilu (2015), Pemilu Gorontalo (2015), dan sejarah Gorontalo.

Apa Kabar Ikan Raja Laut, Hewan Purba di Laut Sulawesi?

Kompas.com - 21/11/2017, 18:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorYunanto Wiji Utomo

Pada September 1997, ikan raja laut ini masuk ke jaring nelayan di Pulau Manado Tua, Lameh Sonathan.

Ikan itu kemudian dijual di Pasar Bersehati Manado dan dibeli Rp 25.000. Nama ikan raja laut merupakan sebutan tibo-tibo (pedagang ikan) yang sering membeli hasil tangkapan Lameh.

Selanjutnya, keluarga Lameh didatangi peneliti Dr Mark V Erdmann. Erdmann membawa foto ikan raja laut seperti yang dijual September 1997 di Pasar Bersehati. Kemudian, Erdmann memberikan alamatnya di sebuah cottage di Pangalisang.

Selain Lameh, tetangganya Maxon, yang juga nelayan menerima foto tersebut.

Awal tahun 1998, Erdmann menerima dana penelitian dari National Geographics untuk meneliti keberadaan Coelecanth di Sulawesi Utara.

Erdmann mewawancarai 200 nelayan dan yang mengaku pernah melihat ikan itu, hanya empat orang.

Ada yang memberi nama ikan raja laut, ada juga yang menyebut ikan cede. Ikan cede dengan nama ilmiah Ruvettus pretiosus ternyata bukan Coelecanth.

Namun, ikan ini diduga menjadi indikator keberadaan Coelecanth di perairan dalam.

Pada 29 Juli malam, Lameh dan anaknya Charles melaut. Jaring dilepas dengan menggunakan pemberat ke perairan dalam.

Ikan raja laut masuk dalam jaring. Ikan ini ditangkap di perairan depan kampung Papindaang, Desa Manado Tua I, di kedalaman 80 meter.

Tiba di rumah, ikan itu dicocokkan dengan foto pemberian Erdmann. Rupa ikan itu mirip dengan yang ada di foto.

Bergegaslah Lameh dan Charles menuju ke tempat tinggal Erdmann di Pangalisang pada 30 Juli. Ikan yang dibawa Lameh memiliki panjang 1,24 meter dan berat 29 kilogram.

Pada 30 Juli 1998, Erdmann baru bisa memastikan bahwa Coelecanth memang ada di Sulawesi Utara.

Setelah Erdmann mengidentifikasi dan memopulerkan ikan raja laut dari Manado Tua, banyak turis yang menanyakan ikan itu.

Setelah temuan ikan itu, kampanye pelestarian ikan raja laut dilakukan, juga pertemuan dengan Balai Taman Nasional Bunaken dan pengusaha jasa wisata selam.

Ikan purba ini menjadi perhatian ilmuwan kelautan. Peneliti dan turis ingin melihat dan membeli ikan itu dengan harga tinggi.

Coelacanth di Komoro

Pada mulanya, ikan Coelacanth hanya dikenal hidup di Kepulauan Komoro, berjarak sekitar 10.000 kilometer dari Pulau Manado Tua.

Coelacanth (Pisces latimeriidae) pertama kali muncul dalam kehidupan sekitar 400 juta tahun silam dalam bentuk fosil. Sampai 70 juta tahun lalu, ikan ini tidak ditemukan lagi.

Para ahli menduga ikan itu telah punah. Ikan purba ini panjangnya mencapai 2 meter dengan berat 100 kilogram. Ikan ini tidak bertelur, tetapi melahirkan anak.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.