Mengapa Manusia Takut Laba-laba dan Ular? Peneliti Ungkap Asal-usulnya - Kompas.com

Mengapa Manusia Takut Laba-laba dan Ular? Peneliti Ungkap Asal-usulnya

Kontributor Sains, Monika Novena
Kompas.com - 24/10/2017, 18:00 WIB
Warna cerah pada  cenderung membantu laba-laba menarik mangsa sementara duri-duri yang mencuat ke luar berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri.Jonathan Kolby Warna cerah pada cenderung membantu laba-laba menarik mangsa sementara duri-duri yang mencuat ke luar berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri.

KOMPAS.com - Jika suatu saat Anda bertemu dengan laba-laba atau ular dan merasa ketakutan, itu adalah sesuatu yang wajar.

Sebuah studi mengungkapkan jika ternyata sudah sejak lahirpun kita takut dengan kedua hewan itu.

Sudah sejak dulu, arachnophobia atau ketakutan terhadap laba-laba dan hewan yang termasuk dalam kelompok arachnida ini memang diperdebatkan. Apakah benar ketakutan tersebut sudah tertanam di dalam diri kita atau tidak.

Pertanyaan mengusik kemudian dicoba dijawab oleh Max Planck Institute for Human Cognitive and Brain Sciences di Jerman.

Mereka lantas melakukan sebuah studi dengan melibatkan partisipan yang tidak biasa, bayi manusia.

Bayi manusia dianggap netral dan mereka tidak menaruh curiga terhadap sesuatu.

Ada serangkaian gambar yang diperlihatkan kepada bayi.

Pertama, peneliti memperlihatkan gambar laba-laba kepada bayi berusia enam bulan untuk mengetahui respon mereka terhadap arachnida, kelompok hewan invertebrata yang mencakup laba-laba dan kalajengking.

Selain gambar laba-laba, bayi juga ditunjukkan dengan gambar bunga. Selanjutnya, pada eksperimen yang terpisah, bayi juga ditunjukkan serangkaian gambar ular dan ikan.

Baca Juga: Inikah Laba-laba Paling Durhaka di Dunia?

Hasilnya penelitian mengungkap, pupil bayi melebar setiap kali melihat laba-laba dan ular. Hal ini mengindikasikan tingginya kadar norepinephrine yang dapat membantu mengukur respon stres.

"Ketika kami menunjukkan gambar seekor laba-laba atau ular kapada bayi-bayi itu, pupil mereka bereaksi jauh lebih besar," kata Stefanie Hoehl, ahli saraf dari Max Planck Institute seperti dikutip dari Science Alert, Senin (23/10/2017).

"Dalam kondisi cahaya konstan, perubahan ukuran pupil merupakan sinyal penting untuk aktivasi sistem noradrenergic di otak, yang bertanggung jawab untuk stres," jelasnya.

Saat melihat laba-laba, rata-rata pelebaran pupil adalah 0,14 mm sementara ketika bayi melihat bunga respon pupil membesar 0,03 mm.

Sementara saat ditunjukkan gambar ular dan ikan, respon tidak terlalu signifikan jika dibandingkan saat melihat laba-laba serta ular.

Bagaimana bayi bisa tampak stress melihat ular dan laba-laba?

Meski peneliti belum bisa menjelaskan secara detail bagaimana mekanisme ini bisa terjadi namun peneliti berpendapat jika ketakutan terhadap kedua hewan ini merupakan sebuah proses panjang yang terjadi sejak nenek moyang kita.

"Kami menyimpulkan bahwa ketakutan terhadap laba-laba dan ular ini merupakan evolusi," terang Hoehl.

"Serupa dengan primata, mekanisme otak kita memungkinkan untuk mengidentifikasi objek sebagai laba-laba atau ular dan bereaksi terhadapnya dengan sangat cepat," tambahnya.

Studi ini telah dipublikasikan di Frontiers in Psychology.

Baca Juga: Langka, Laba-laba Ini Makan Kadal yang 3 Kali Lebih Besar dari Dirinya


PenulisKontributor Sains, Monika Novena
EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM