Kompas.com - 09/11/2017, 16:35 WIB
Dua gambar inset kecil tersebut menunjukkan pengamatan aktual dari galaksi spiral paling kuno yang pernah diobservasi. Sisa gambar adalah ilustrasi seorang seniman yang menunjukkan bagaimana sebuah gugus galaksi besar membungkuk dan memperbesar cahaya dari galaksi yang jauh, sehingga terlihat oleh para astronom di Bumi. James JosephidesDua gambar inset kecil tersebut menunjukkan pengamatan aktual dari galaksi spiral paling kuno yang pernah diobservasi. Sisa gambar adalah ilustrasi seorang seniman yang menunjukkan bagaimana sebuah gugus galaksi besar membungkuk dan memperbesar cahaya dari galaksi yang jauh, sehingga terlihat oleh para astronom di Bumi.
|
EditorResa Eka Ayu Sartika

KOMPAS.com- Baru-baru ini, sebuah penelitian yang dilakuan di Universitas Teknologi Swinburne dan Universitas Nasional Australia menemukan keberadaan sebuah galaksi kuno. Bahkan, galaksi ini dianggap sebagai nenek moyang galaksi spiral modern seperti Bima Sakti.

Penemuan ini juga diharapkan untuk membuka rahasia tentang galaksi Bima Sakti.

"Galaksi spiral sangat langka di alam semesta awal, dan penemuan ini membuka pintu untuk menyelidiki bagaimana galaksi beralih dari ketidakteraturan menjadi cakram yang teratur dan tipis seperti galaksi Bima Sakti kita sendiri," Renyue Cen, co-author penelitian ini dan astronom senior di Universitas Princeton dikutip dari Space.com, Selasa (7/11/2017).

Para peneliti memberi nama galaksi kuno tersebut A1689B11. Galaksi ini merupakan temuan terbaru para astronom yang menyakini galaksi tersebut adalah yang tertua dan terantik dalam kurun waktu 11 miliar tahun.

Baca juga: Ketika Ribuan Galaksi "Foto" Bersama di Langit Bumi

Galaksi kuno ini sendiri berjarak sangat jauh dari bumi. Selain itu, galaksi kuno tersebut diperkirakan paling tua karena alam semesta sendiri diperkirakan baru berusia 13-14 miliar tahun dan terbentuk setelah peristiwa Big Bang.

Galaksi ini diklaim tidak hanya kuno, namun juga antik. Untuk mengetahui keberadaannya saja, para peneliti membutuhkan kerja keras dan mengeluarkan seluruh pengetahuan tentang matematika dan teknologi mutakhir.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bukan hal mudah untuk menemukan galaksi kuno, juga mengungkap umur atau jaraknya. Peneliti sudah mengalami kesulitan saat memecahkan masalah cahaya untuk jarak galaksi.

Dikutip dari BGR pada Selasa (7/11/2017), sesungguhnya, lokasi A1689B11 dikaburkan oleh sebuah gugusan galaksi besar yang letaknya menghalangi titik pandang manusia di Bumi.

Untung saja, pengaruh gravitasi memecahkan masalah pengamatan para astronom tersebut. Gravitasi mempengaruhi posisi sumber cahaya yang berada di belakang gugusan galaksi besar, menciptakan efek lensa gravitasi.

Di dalam posisi tersebut, astronom dapat melihat sebetulnya arah cahaya diperbesar saat membengkok di sekitar objek dan berlanjut pada arah yang kira-kira sama dengan awalnya.

Baca juga: Galaksi Ini adalah "Hantu" di Semesta, 99,99 Persen Materinya Tak Kasat Mata

Kondisi ini yang memungkinkan ilmuwan melihat jelas informasi galaksi kuno tersebut. Gambar yang ditangkap lewat lensa gravitasi juga memberikan gambarannya sangat jelas tentang formasi spiral lama dapat ditentukan.

Para ilmuwan berharap A1689B11 dapat memberi lebih banyak pengetahuian tentang formasi beberapa galaksi spiral paling awal.



Sumber SPACE.COM,bgr
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.