Mungkinkah Kecanduan "Game" adalah Bentuk Kekosongan Jiwa?

Kompas.com - 29/10/2017, 18:50 WIB
Ilustrasi pemain game melakukan streaming gameplay lewat Facebook Live desktop.Facebook Ilustrasi pemain game melakukan streaming gameplay lewat Facebook Live desktop.

KOMPAS.com- Banyak orang salah persepsi saat menyebut seseorang bermain game internet berjam-jam, sebagai perilaku kecanduan. Namun penelitian terbaru membantahnya. Perilaku tersebut bukan kecanduan, tetapi orang tersebut tidak bahagia dalam hidupnya.

Perilaku bermain game internet dalam waktu lama, bagi para peneliti, masih harus diteliti lebih dalam. Asosiasi Psikiatris Amerika menyatakan bahwa butuh penelitian lanjutan untuk mengungkap fenomena perilaku penyuka game internet tersebut.

Namun demikian, ada beberapa hal yang harus diketahui terlebih dahulu sebelum menyebut seseorang mengalami perilaku tersebut. Beberapa diantaranya seperti apakah berkata jujur saat ditanya berapa lama sudah bermain game? Apakah itu membahayakan proses belajar atau karir? Apakah bermain game untuk menghilangkan rasa cemas mereka?

Netta Weinstein, psikolog dari Universitas Cardiff menggunakn kriteria di atas untuk melakukan penelitian terhadap 2316 orang yang masih berumur 18 tahun dan suka main game internet atau online.

Kemudian peserta diminta mengisi kuesioner tentang kondisi kesehatan, gaya hidup dan kondisi fisik mereka. Pada awal penelitian, hanya lima orang yang sesuai dengan kriteria.

"Kita tidak menemukan adanya kejanggalan secara klinis dalam jumlah besar dari peserta," kata Weinstein.

Baca Juga: Inilah Satu-satunya Cara Membeli Kebahagiaan Menurut Sains

"Hasilnya justru menunjukan bahwa perilaku kecanduan game internet masih perlu dikaji ulang. Kondisi perilaku para gamers tidak bisa disamakan dengan perlaku kecanduan obat," katanya.

Sementara itu, penelitian tersebut juga menunjukan adanya 'kekosongan jiwa' dalam diri para peserta. "Ini berbarti mereka memiliki rasa tidak bahagia atau tidak puas dengan sesuatu di hidupnya, semisal terkait pekerjaan," katanya.

Enam bulan setelah penelitian tersebut, ternyata para peserta yang sudah menemukan 'kebahagiaan' dalam hidupnya, jumlah bermain game pun ikut berkurang. "Ini pertanda awal bahwa disaat orang bahagia, mereka tidak akan terlalu lama untuk bermain game," katanya.

Pendapat berbeda terkait hasil penelitian Weinstein pun bermunculan. Salah satunya dari Daria Kuss, peneliti bidang Psikologi Cyber di Inggris.

Menurut Kuss, menggunakan kuesioner dalam meneliti perilaku kecanduan game merupakan hal yang salah. Karena peserta akan cenderung menutupi perilaku buruk mereka.

"Jika seseorang bermain game hanya untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya, maka ini akan menjadi masalah besar apabila tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut di dunia nyata. Namun, untuk menjawab secara ilmiah, kita butuh orang yang mengalami kecanduan game internet," kata Kuss.

Baca Juga: Ternyata, Narsis Tanda Anda Tak Bahagia

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorYunanto Wiji Utomo
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X