Kompas.com - 27/07/2017, 08:11 WIB
Hasil percobaan media taman menggunakan plastik yang dilakukan oleh siswi SMAN 1 Bogor. Hasil penelitian tersebut dipamerkan pada Loréal Science Fair 2017 di gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu (26/7/2017) KOMPAS.COM/LUTFY MAIRIZAL PUTRAHasil percobaan media taman menggunakan plastik yang dilakukan oleh siswi SMAN 1 Bogor. Hasil penelitian tersebut dipamerkan pada Loréal Science Fair 2017 di gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu (26/7/2017)
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com –- Berjuta-juta plastik terus diproduksi oleh masyarakat dunia. Penggunaannya pun sembarangan hingga tersebar di lautan dan tanah. Padahal, perlu ratusan tahun agar plastik dapat terdekomposisi sepenuhnya.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science Advance, sejak 1950 terhitung sebanyak 9 miliar ton plastik telah diproduksi. Kondisi itu memberikan ide bagi para siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Bogor, Annisa Alya Salsabila, Fachriah Rachmawati, dan Tasya Sabila Bisyir, yang dibimbing oleh Puji Heru.

Ketiganya meneliti kemampuan plastik sebagai media tanam pengganti tanah. “Kami melihat banyak masalah di plastik. Penyu makan plastik. Jadi kami mau memanfaatkan bagaimana caranya agar plastik tidak berbahaya bagi lingkungan,” kata Annisa dalam acara L’oreal Science Fair 2017 di kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Selasa (26/7/2017).

(Baca juga: Berapa Banyak Plastik yang Sudah Kita Produksi Selama Ini?)

Pada mulanya, plastik dibentuk menjadi bulatan dengan kepadatan sedang. Bagian plastik yang terbuka kemudian dibakar agar bentuk plastik tetap bulat.

Berbeda dari tanah, plastik tidak dapat memberikan nutrisi bagi tanaman. Untuk itu, plastik dicampur dengan pupuk organik cair. Takarannya, satu liter air dibubuhi tiga tetes pupuk organik cair.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Plastik kemudian diremas di dalam larutan pupuk dan pergantian tempat terjadi, udara yang dikeluarkan dari plastik digantikan oleh larutan pupuk.

Fachriah mengatakan, percobaannya mengunakan empat jenis plastik, yakni plastik hitam, plastik bening yang biasa digunakan untuk makanan, plastik berwarna, dan plastik putih.

(Baca juga: Peneliti Temukan Ratusan Ton Sampah Plastik di Lautan Arktik)

Lalu, menggunakan tanaman kuping gajah yang sudah tumbuh sedikit terlebih dulu, ketiga siswi dari SMAN 1 Bogor kemudian mengamati perbedaan dari keempat media tanam tersebut.

Walaupun sama-sama diberikan intensitas penyinaran matahari yang sama, ternyata intensitas air yang digunakan pada media tanam plastik lebih hemat daripada tanah. Plastik yang menjadi media tanam hanya memerlukan penyiraman dua hari sekali, sedangkan pada tanah, air harus diberikan setiap hari.

Setelah tiga bulan, terdapat perbedaan pertumbuhan tanaman kuping gajah pada masing-masing media tanam.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bisa Jadi Sarang Kuman, Inilah Benda-benda Paling Kotor di Rumah

Bisa Jadi Sarang Kuman, Inilah Benda-benda Paling Kotor di Rumah

Oh Begitu
Penyebab dan Cara Mengatasi Biang Keringat

Penyebab dan Cara Mengatasi Biang Keringat

Kita
Ahli Ungkap Islandia Bagian Benua yang Tenggelam 10 Juta Tahun Lalu

Ahli Ungkap Islandia Bagian Benua yang Tenggelam 10 Juta Tahun Lalu

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, Tenaga Kesehatan Harus Paham Pentingnya Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, Tenaga Kesehatan Harus Paham Pentingnya Healthy Aging

Oh Begitu
Kamasutra Satwa: Kibaskan Ekornya ke Samping, Tanda Anjing Betina Siap Kawin

Kamasutra Satwa: Kibaskan Ekornya ke Samping, Tanda Anjing Betina Siap Kawin

Oh Begitu
Tanda Pasien Covid-19 Memburuk Saat Isoman Menurut Satgas Covid-19

Tanda Pasien Covid-19 Memburuk Saat Isoman Menurut Satgas Covid-19

Oh Begitu
Penemuan Obat Antivirus Ini Lahirkan Obat untuk Lawan Virus dari Herpes, HIV hingga Covid-19

Penemuan Obat Antivirus Ini Lahirkan Obat untuk Lawan Virus dari Herpes, HIV hingga Covid-19

Oh Begitu
Isu Doping Atlet Pesaing Windy Cantika Aisah, Apa Itu Doping dan Risikonya?

Isu Doping Atlet Pesaing Windy Cantika Aisah, Apa Itu Doping dan Risikonya?

Oh Begitu
Perjalanan Vaksin Nusantara, Kehebohan dan Pelajarannya

Perjalanan Vaksin Nusantara, Kehebohan dan Pelajarannya

Oh Begitu
6 Tips Minum Kopi Agar Lebih Menyehatkan Tubuh

6 Tips Minum Kopi Agar Lebih Menyehatkan Tubuh

Oh Begitu
Pantai Alaska Diguncang Gempa M 7,8 Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Pantai Alaska Diguncang Gempa M 7,8 Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Oh Begitu
Syarat Rumah yang Bisa Dipakai Isolasi Mandiri Menurut Dokter

Syarat Rumah yang Bisa Dipakai Isolasi Mandiri Menurut Dokter

Oh Begitu
Satu Dosis Vaksin AstraZeneca 82 Persen Efektif Lawan Varian Beta dan Gamma

Satu Dosis Vaksin AstraZeneca 82 Persen Efektif Lawan Varian Beta dan Gamma

Oh Begitu
Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Capai 36 Persen, Ini Penyebabnya

Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Capai 36 Persen, Ini Penyebabnya

Oh Begitu
Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Ini Faktanya

Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Ini Faktanya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X