Kompas.com - 25/07/2017, 09:07 WIB
Ilustrasi jalan kaki danielvfungIlustrasi jalan kaki
EditorShierine Wangsa Wibawa

"Yang banyak itu adalah orang-orang yang gemuk, orang-orang yang tidak bergerak banyak. Sehingga penyakit-penyakitnya sama dengan orang-orang di negara maju akibat kurang olahraga, makan berlebihan, makan tidak sehat. Itu kan meningkat," tambahnya.

Data penelitian bahwa Indonesia berada di bawah Singapura perihal berjalan kaki tidak mengherankan bagi dokter Ermita. Menurutnya, kondisi infrastruktur di Indonesia adalah salah satu penyebab publik tidak berjalan kaki banyak.

"Kita mau jalan di mana? Jalan tidak rata, ada lubang. Malah keseleo kalau kita injak. Kalau di Singapura, kita kan harus berjalan kaki. Itu fasilitas semua kan tersedia. Lingkungan kita yang tidak menopang," kata dokter Ermita.

Masalah infrastruktur

Penyebab mengapa publik Singapura berjalan kaki lebih banyak ketimbang publik Indonesia, Filipina, dan Malaysia juga menjadi sorotan penelitian Universitas Stanford.

Menurut Tim Althoff, penelitian mereka menunjukkan bahwa penduduk kota-kota yang memiliki trotoar lebih baik mencatat jumlah langkah lebih banyak ketimbang kota yang trotoar dan infrastrukturnya tidak menyokong pejalan kaki.

"Anda bisa melihat di Singapura bahwa lingkungannya berbeda," kata Althoff.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Dari semua kelompok masyarakat, kami melihat bahwa jika Anda punya infrastruktur lebih baik, jika Anda bisa berjalan kaki dengan nyaman, masyarakat akan mendapat hasil positif, mereka akan berjalan lebih banyak. Dan mengurangi kesenjangan fisik," imbuhnya.

Althoff menambahkan bahwa dia dan rekan-rekannya kini tengah mengerjakan kajian lanjutan yang berfokus pada korelasi antara aktivitas fisik dan migrasi masyarakat.

Dari kajian awal itu mereka menemukan bahwa orang yang jarang melangkah di kota yang trotoarnya tidak tertata rapi, jumlah langkahnya meningkat pesat begitu pindah ke kota dengan infrastruktur mumpuni.

"Ada banyak orang yang tidak begitu aktif. Saya yakin orang Indonesia adalah pekerja keras, tapi ini adalah masalah yang melanda seluruh masyarakat bukanlah sekedar masalah individu."

Artikel ini sudah pernah tayang sebelumnya di BBC Indonesia dengan judul: Kegemukan dan minimnya tingkat jalan kaki orang Indonesia

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.