Kompas.com - 12/05/2017, 20:06 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Vonis penjara dua tahun yang dijatuhkan kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tidak hanya menggoncang Indonesia saja. Badan-badan dunia juga meminta pemerintah Republik Indonesia untuk mempertimbangkan kembali hukum yang mengatur mengenai masalah ini.

Mengapa negara-negara barat begitu peduli mengenai kasus penodaan agama Ahok? Apakah mereka tidak mengenal penodaan agama?

Menurut Pew Research Center, hukum mengenai penodaan agama tidak unik di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim saja. Hampir satu dari lima negara Eropa dan sepertiga dari negara-negara di benua Amerika memiliki hukum yang melarang penodaan agama.

Akan tetapi, kasus-kasus penodaan agama lebih mudah ditemukan di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim.

Dalam artikelnya untuk The Conversation 2 Mei 2017, dosen literatur dan budaya Inggris Steve Pinkerton mengutip antropolog budaya, Saba Mahmood, yang berkata bahwa kebanyakan penganut agama Islam yang taat memandang penodaan agama seperti luka fisik, sebuah pelanggaran yang menyakiti Tuhan dan penganutnya.

Intesitas tersebut mendasari hukuman mati yang diberikan kepada penoda agama di negara-negara teokratis seperti Pakistan.

Hal ini mungkin terdengar aneh bagi masyarakat di negara-negara Barat, tetapi mayoritas hukum yang ditetapkan oleh negara-negara mereka sendiri memiliki logika yang sama.

“Secara khusus, mereka (hukum di semua negara) sama-sama menganggap penodaan agama sebagai semacam ‘luka’, walaupun tidak mengetahui secara pasti apa yang dilukai oleh penodaan agama,” tulis Pinkerton.

(Baca juga: Kasus-kasus Penodaan Agama yang Menghebohkan Indonesia dan Dunia)

Sejarawan Leonard Levy dan David Nash telah mendokumentasikan hukum-hukum penodaan agama di negara-negara barat yang mayoritas berasal dari abad ke-13 hingga abad ke-19. Menurut kedua sejarawan tersebut, hukum-hukum tersebut biasanya diciptakan untuk melindungi kepercayaan Kristen dari “luka” dan “cemooh”.

Akan tetapi, dengan meningkatnya popularitas sekulerisme di negara-negara Barat, hukum tersebut kehilangan kekuatannya dan pada pertengahan abad ke-20, telah dianggap sebagai surat mati. Faktanya, hukum penodaan agama di Amerika Serikat belum pernah digunakan sejak awal tahun ’70-an.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.