Mengenal Tanda Depresi pada Pasien Kanker dan Cara Mengatasinya

Kompas.com - 03/02/2017, 15:15 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

"Pertama yang harus dipahami adalah, kelemahan fisik sangat rentan memengaruhi emosi. Bayangkan, mau bergerak saja susah. Mau makan, susah menelan. Tak heran jika orang yang sedang sakit, apalagi sakit berat, menjadi depresi," kata Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si Psikolog, Psikolog di Klinik Terpadu UI Depok dan Klinik Tiga Generasi di Jakarta Selatan.

Lebih lanjut wanita yang akrab disapa Nina ini mengatakan, sebaiknya Anda sebagai pendamping atau kerabat pasien, tidak memaksakan kehendak kepada Si Sakit, sekalipun itu untuk kebaikannya sendiri.

"Beberapa pasien kanker, karena depresi dan merasa tidak akan sembuh, lalu menolak minum obat. Hadapi dengan sabar, jangan nyinyir apalagi marah dengan berkata seperti 'Kamu mau sembuh atau tidak? Makanya harus minum obat!'. Hal seperti ini tidak dianjurkan," kata Nina lagi.

Sebaliknya, hadapi kemauan pasien dengan sabar. Misalnya, 'Oh, kamu mau tidur dulu ya baru minum obat?'. Atau, tanyakan kepada pasien apa yang membuatnya nyaman sehingga mau terus minum obat.

Pengertian terhadap kondisi pasien, kemauan untuk mendengarkan keluh kesahnya, akan mendorong pasien mengeluarkan unek-unek, sehingga energi negatif dalam dirinya terkuras.

"Jika energi negatif sudah keluar, akan lebih mudah muncul kesadaran dalam diri si pasien untuk terus berobat, atau untuk mau makan," jelas Anna.

Anda pun bisa menawarkan kepada pasien untuk bergabung dengan supporting group atau bertemu dengan penyintas kanker. Keduanya berguna untuk membangun lagi semangat pasien.

Hanya perlu diingat, menawarkan tidak sama dengan memaksa. Biarkan pasien memutuskan untuk dirinya sendiri.

Tak jarang, rasa sakit fisik yang dialami pasien membuat kemampuan kognitifnya berkurang. Walhasil, mungkin saja saran Anda untuk bergabung dengan supporting group tidak bisa langsung dicerna dengan baik saat itu juga.

"Anda boleh mengingatkannya lagi satu atau dua minggu kemudian, dengan baik-baik. Tidak dengan memaksa," pesan Anna.

Tambahan dari Robin Hershkowitz, direktur program untuk kanker wanita di CancerCare di New York City, Anda juga bisa menganjurkan kepada pasien untuk membuat jurnal berisi apa yang dia rasakan dan pikirkan setelah menjalani tiap sesi pengobatan. Jurnal itu adalah sarana pelepasan emosi, yang bisa Anda berdua diskusikan.

Tak ada salahnya juga mengajak dokter ikut membaca dan berdiskusi. Ini supaya dokter tahu jika pasien merasa berat atau semakin menderita (atau sebaliknya) dengan pengobatan yang diberikan. Dengan demikian dokter bisa mencarikan solusinya.

Halaman:
Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X