Wisnubrata
Assistant Managing Editor Kompas.com.

Wartawan, penggemar olahraga, penyuka seni dan kebudayaan, pecinta keluarga

Kisah Mereka yang Menelan Matahari

Kompas.com - 08/03/2016, 20:26 WIB
Kolase foto gerhana pada 22 Juli 2009, selang waktu dari foto terkiri sampai terkanan sekitar dua setengah jam. Foto diambil dari dilihat Kota Chongqing, China. Arsip Agatha Bunanta, pernah dimua di harian Kompas, 4/8/2009. 
Agatha BunantaKolase foto gerhana pada 22 Juli 2009, selang waktu dari foto terkiri sampai terkanan sekitar dua setengah jam. Foto diambil dari dilihat Kota Chongqing, China. Arsip Agatha Bunanta, pernah dimua di harian Kompas, 4/8/2009.
EditorWisnubrata

KOMPAS.com — Dikisahkan, pada suatu ketika, para dewa berhasil menemukan tirta amerta setelah mencarinya ke lautan susu. Tirta amerta begitu penting karena dengan meminum air itu, seseorang akan hidup abadi.

Para dewa yang bersukacita kemudian berkumpul di kahyangan dan berbaris untuk meneguk tirta amerta. Namun, di antara mereka ada raksasa bernama Kala Rahu yang menyamar sebagai dewa demi mendapatkan keabadian.

Tepat saat dia mendapat giliran untuk minum air abadi, penyamarannya diketahui Dewa Surya dan Dewa Candra.

Kedua dewa yang mewakili matahari dan bulan itu kemudian berteriak. Dewa Wisnu, yang membagikan air itu, segera menarik cawan dari mulut Kala Rahu dan mencabut senjata cakra. Roda cakra berputar, dan menebas leher Kala Rahu.

Namun, raksasa Rahu telah meminum sedikit tirta amerta. Air abadi itu mengalir hingga tenggorokannya. Akibatnya, kepala Rahu tetap hidup, sedangkan badannya mati. Rahu kemudian melayang-layang tanpa badan sepanjang hayatnya.

Rahu menyimpan dendam kepada Dewa Surya dan Dewa Candra. Oleh karenanya, raksasa itu bersumpah, ia selamanya akan mengejar dan menelan kedua dewa itu. Kadang-kadang, Kala Rahu berhasil mencaplok Surya dan Candra. Saat itulah, gerhana matahari atau gerhana bulan terjadi.

Dalam kebudayaan Jawa, Bali, dan budaya lain yang dipengaruhi Hindu, Kala Rahu dikenal sebagai Batara Kala. Setiap kali ia berhasil menelan matahari, orang-orang segera memukul lesung, kentongan, dan membuat suara-suara nyaring agar Kala pergi dan memuntahkan matahari.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Cerita Batara Kala menelan matahari itu tercatat di Candi Belahan di Gempol, Pasuruan, Jawa Timur. Kompas edisi 7 Maret 2016, di halaman 16 dengan judul "10 Abad Jejak Gerhana di Nusantara", menuliskan, relief di candi peninggalan Kerajaan Mataram tersebut menggambarkan sosok raksasa Batara Kala hendak menelan medalion atau bulatan.

Di bawah bulatan itu, ada dua sosok yang ditafsirkan sebagai Dewa Surya atau Dewa Matahari dan Dewi Candra atau Dewi Bulan. Bulatan itu diduga sebagai matahari atau bulan.

Cerita serupa dengan alur berbeda dengan Rahu sebagai tokohnya juga beredar di masyarakat Bangka. Rau, begitu dia disebut, adalah raksasa yang ingin mempersunting dewi dari kahyangan. Cintanya ditolak, amarahnya memuncak. (Baca: Gerhana dan Dendam Abadi Raksasa Rau)

***
Mitos soal gerhana ketika matahari hilang ditelan makhluk lain bukan hanya ditemukan di kebudayaan yang dipengaruhi Hindu.

Dalam keyakinan kuno Tiongkok, gerhana diyakini sebagai peristiwa ketika seekor naga raksasa menelan matahari. Cerita naga ini serupa dengan legenda masyarakat Ternate yang menganggap gerhana terjadi karena ada naga menelan sang surya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.