Universitas Bengkulu Lepas Varietas Jagung Tahan Banting

Kompas.com - 03/09/2013, 22:07 WIB
Seorang petani di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Senin (18/3/2013) menjemur jagung hasil panen di teras rumahnya. Hujan yang terus mengguyur menyulitkan petani menjemur jagung. Harga jagung pipilan kering Rp 2.700 per kg, turun dari sebelumnya Rp 3.200 per kg.

KOMPAS/RUNIK SRI ASTUTISeorang petani di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Senin (18/3/2013) menjemur jagung hasil panen di teras rumahnya. Hujan yang terus mengguyur menyulitkan petani menjemur jagung. Harga jagung pipilan kering Rp 2.700 per kg, turun dari sebelumnya Rp 3.200 per kg.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

BENGKULU, KOMPAS.com — Universitas Bengkulu melepas varietas jagung hibrida yang dinamai SP1, SP2, dan Supra 1 ke publik setelah mendapatkan surat keputusan (SK) dari Menteri Pertanian pada bulan Juli 2013.

Varietas hibrida ini merupakan hasil dari riset yang dilakukan selama tujuh tahun oleh Suprapto, PhD, dosen pertanian pengasuh mata kuliah genetika dan pemuliaan Universitas Bengkulu.

Ditemui Kompas.com, Selasa (3/9/2013), Suprapto mengklaim bahwa keunggulan dari varietas jagung SP1, SP2, dan Supra 1 adalah mampu menghasilkan rata-rata 9 ton per hektar. Jumlah ini jauh di atas hasil rata-rata produktivitas nasional jagung, yakni hanya 4,6 ton per tahun dan 3,2 ton per hektar untuk Provinsi Bengkulu.

Selain itu, keunggulan varietas ini adalah sangat tahan terhadap penyakit bulai, karat daun, hawar daun, dan beradaptasi baik di lingkungan asam.

Sejauh ini, setelah mendapatkan SK dari Menteri Pertanian, varietas ini mulai banyak dilirik perusahaan benih nasional.

Selama ini, menurut Suprapto, kebutuhan akan benih jagung di Indonesia mencapai 50.000 hingga 100.000 ton per tahun. Hampir 80 persen pasokan benih itu didapatkan dari impor atau perusahaan-perusahaan benih internasional.

"Dengan ditemukan dan dilepaskan varietas ini ke pasaran, saya berharap ketergantungan akan benih jagung nasional terhadap asing semakin berkurang dan dapat diisi oleh benih-benih lokal," kata Suprapto.

Ia menambahkan, ada tiga karakterisitik jagung yang harus terpenuhi agar hasil maksimal, yakni pada tanah subur, perawatan intensif, dan input pupuk yang tinggi. Namun, dengan SP1, SP 2, dan Supra 1 ketiga karakterisitk tersebut dapat ditekan, terutama pada penggunaan pupuk dan perawatan yang intensif.

"Benih ini tahan banting, tidak perlu pupuk secara berlebihan sehingga biaya perawatan dan modal petani dapat ditekan," tambahnya.

Riset yang dilakukan selama tujuh tahun ini didanai oleh Dikti dan Kementerian Riset dan Teknologi.

Varietas yang dihasilkan dilepas berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4543/kpts/SR.120/7/2013 untuk SP1, 4544/kpts/SR.120/7/2013 untuk SP2, dan 4545/kpts/SR.120/7/2013 untuk Supra 1.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X