KOMPAS.COM - Di musim liburan seperti ini, banyak orang sudah menjadwalkan untuk pergi ke luar kota atau luar negeri dengan pesawat.
Namun ketika berada di pesawat terbang, Anda mungkin khawatir akan tertular dengan orang sakit, khususnya flu. Namun, apakah risiko tersebut benar terjadi?
Hal tersebut tergantung dengan siapa yang duduk di barisan depan dan belakang Anda.
Selain itu, apa yang Anda sentuh juga memengaruhi terjadinya penularan virus flu.
Baca juga: Pertama di Dunia, Pesawat Listrik Komersial Uji Terbang
Flu umumnya ditularkan oleh tetesan liur yang muncrat ketika Anda bersin, batuk, atau sekadar berbicara. Tetesan liur itu bisa melesat ke udara hingga 2 meter, dan akhirnya terhirup oleh orang-orang di sekitar.
Namun saat berada di udara, tetesan liur itu tidak melayang dalam arus udara di kabin pesawat.
Para peneliti melakukan pengamatan terhadap penumpang dan awak kabin dalam lima penerbangan pulang-pergi dari Atlanta ke kota-kota Pantai Barat, empat di antaranya selama musim flu.
Secara keseluruhan, mereka merekam pergerakan 1.540 penumpang dan 41 anggota awak. Hanya satu penumpang dalam satu penerbangan terlihat batuk.
Mereka duduk di kabin kelas ekonomi dalam satu lorong.
Kebanyakan penerbangan menggunakan Boeing 757.
Penerbangan berlangsung antara tiga setengah dan lima jam. Sebagian besar penerbangan juga tidak ada kursi yang kosong.
Studi yang terbit di Prosiding National Academy of Sciences menemukan, 38 persen orang tidak pernah meninggalkan kursi mereka dan 38 persen bangkit hanya sekali. Sisanya pergi dua kali atau lebih.
Hanya 43 persen orang yang duduk di dekat jendela berdiri, tetapi 62 persen penghuni kursi tengah dan 80 persen dari mereka yang berada di lorong bangun setidaknya sekali.
Selain itu, hanya sepertiga penumpang yang menggunakan fasilitas kamar kecil.
Padahal, bagi sebagian orang yang malas menunggu bergantian toilet, di kabin kelas ekonomi Boeing 757 terdapat satu toilet di bagian depan kabin dan dua di bagian belakang.