Temuan Baru, Hasrat Seksual Makin Tinggi Saat Natal dan Idul Fitri - Kompas.com

Temuan Baru, Hasrat Seksual Makin Tinggi Saat Natal dan Idul Fitri

Resa Eka Ayu Sartika
Kompas.com - 26/12/2017, 20:22 WIB
Sinterklas bagi kado Natal di RS Brayat Minulya di Solo, Jawa Tengah, Senin (25/12/2017).KOMPAS.com/Labib Zamani Sinterklas bagi kado Natal di RS Brayat Minulya di Solo, Jawa Tengah, Senin (25/12/2017).

KOMPAS.com - Libur hari raya keagamaan selalu identik dengan menghabiskan waktu dengan keluarga. Tapi tak sekedar itu, hari libur keagamaan tampaknya juga memicu gelombang hasrat seksual di seluruh dunia.

Hal ini ditandai dengan lonjakan kelahiran bayi sembilan bulan setelah hari raya keagamaan. Temuan tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports.

Dalam makalah tersebut, terjadi fenomena lonjakan kelahiran pada sekitar bulan September pada negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani. Dengan kata lain, bayi-bayi tersebut lahir sembilan bulan setelah Natal.

Tak hanya itu, penelitian ini juga mengungkapkan pola yang sama pada negara mayoritas Muslim. Sembilan bulan setelah Idul Fitri, terjadi lonjakan kelahiran.

Baca juga: Seks Tak Masuk Akal antara Monyet dan Rusa Rupanya Umum, Kok Bisa?

Penelitian ini menemukan bahwa fenomena tersebut tampaknya didorong secara budaya dan terjadi di seluruh dunia.

Para peneliti juga menemukan lonjakan kelahiran pada bulan September di negara mayoritas pemeluk Kristiani di belahan bumi Selatan. Padahal, Natal di wilayah tersebut jatuh di musim panas.

"Kami tidak melihat kebalikan dalam tingkat kelahiran atau ketertarikan online dalam tren seksual anatara belahan bumi utara dan selatan," kata Luis Rocha, pemimpin penelitian tersebut dikutip dari The Independent, Kamis (21/12/2017).

"Sebaliknya, penelitian ini menemukan budaya (diukur melalui mood online) untuk menjadi pendorong utama dibalik tren seksual dan reproduksi perilaku ini pada populasi manusia, imbuh profesor yang bekerja di Indiana University School of Informatics, Computing and Engineering tersebut.

Di negara berpenduduk mayoritas Muslim, juga terjadi peningkatan angka kelahiran sembilan bulan setelah perayaan Idul Fitri. Padahal Idul Fitri selalu jatuh pada waktu yang berbeda setiap tahunnya.

Para peneliti kemudian menggunakan metode baru untuk mengeksplorasi perasaan orang selama waktu libur keagamaan itu.

Mereka menganalisis pesan Twitter dari tujuh negara, yaitu Argentina, Australia, Brasil, Chile, Indonesia, Turki, dan Amerika Serikat. Para peneliti ini memberi penilaian sentimen pada para peserta dari satu hingga sembilan.

Baca juga: Perarakan Pasangan Cikupa, Kok Orang Suka Jadi Polisi Kehidupan Seks?

Penilaian sentimen ini juga dikombinasikan dengan jumlah pencarian google terkait seks di negara ini dalam minggu-minggu sebelum, pada saat hari raya keagamaan, dan setelahnya.

Mereka menemukan selain meningkatnya minat seks, negara-negara tersebut cenderung lebih bahagia pada hari raya keagamaan.

"Sangat kontra-intuitif untuk memikirkan Natal dan Idul Fitri sebagai waktu pencarian online untuk seks terbanyak dalam setahun," tulis laporan tersebut.

"Namun, kejadian ini bisa memicu suasana hati yang menyebabkan korespondensi mencolok antara liburan dan minat seksual ini," sambung laporan itu.

Para peneliti juga menemukan, hari libur lain seperti Paskah atau Thanksgiving tidak menghasilkan lonjakan kelahiran yang sama.

"Analisis kami memberikan bukti konvergensi yang kuat untuk hipotesis budaya: siklus reproduksi manusia didorong oleh budaya daripada adaptasi biologis terhadap siklus musiman," tulis laporan itu.

"Selanjutnya, puncak minat seks yang teramati terjadi di sekitar libur keagamaan yang berorientasi keluarga, di berbagai belahan dan budaya yang berbeda, dan ukuran suasana hati kolektif pada liburan ini berkorelasi dengan minat seks sepanjang tahun di luar liburan ini," ungkap laporan tersebut.

Baca juga: Awas, Seks Oral Bisa Memicu Kanker Lidah, Mulut, dan Tenggorokan

Profesor Rocha mengatakan bahwa wawasan baru ini dapat membantu menargetkan kampanye kesehatan masyarakat di masa depan. Ia juga menjelaskan bahwa hasil yang kuat "cenderung berlaku di negara-negara berkembang" di mana data tidak tersedia.

"Jenis analisis ini mewakili sumber data baru yang kuat bagi peneliti ilmu sosial dan peneliti aturan publik," tutupnya

PenulisResa Eka Ayu Sartika
EditorResa Eka Ayu Sartika
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM