Baju Kita Juga Sumbang Polusi di Lautan, Kok Bisa?

Kompas.com - 04/02/2020, 08:03 WIB
ilustrasi pakaian DmyToilustrasi pakaian

KOMPAS.com – Sampah dan limbah industri memang menjadi sumber polusi utama di lautan. Oleh karena itulah beberapa negara di dunia telah melarang penggunaan plastik sekali pakai.

Namun tanpa sadar, serat mikro (microfibre) juga menjadi polutan yang mencemari lautan di seluruh dunia. Serat mikro tersebut mayoritas terbuat dari polyester, nylon dan acrylic.

“Banyak orang tidak menyadari ini, namun kebanyakan pakaian terbuat dari plastik,” tutur Imogen Napper, peneliti dari University of Plymouth seperti dikutip dari Phys.org, Senin (3/2/2020).

Bagaimana prosesnya?

Napper menyebutkan bahwa polusi yang diakibatkan serat mikro disebabkan oleh proses mencuci.

“Kita mencuci baju secaa rutin. Ratusan sampai ribuan serat kain terlepas saat mencuci. Ini menjadi sumber utama polusi,” tuturnya.

Ilustrasi baju bernodaAndreyPopov Ilustrasi baju bernoda

Sebuah laporan yang dibuat oleh Ellen McArthur Foundation pada 2015 menyebutkan bahwa setengah juta ton serat mikro dilepaskan ke lautan setiap tahun. Sebanyak 53 juta ton pakaian baru diciptakan tiap tahunnya.

Baca juga: Anda Mencuci Baju Menggunakan Mesin? Waspadai Bakteri Ini

Sebagai perbandingan, Ocean Wise Organisation menyebutkan rata-rata keluarga di Amerika Serikat dan Kanada melepaskan lebih dari 500 juta serat mikro ke lautan tiap tahunnya.

Padahal, ilmuwan membenarkan bahwa serat mikro memiliki potensi yang sangat membahayakan bagi kehidupan laut. Serat mikro, baik sintetis maupun tidak, rentan untuk dimakan oleh mahluk laut.

“Namun buktinya menghilang cukup cepat, karena organisme (yang memakan serat mikro) dimangsa oleh predator lain,” tutur ilmuwan dari Ocean Wise, Peter Ross.

Mengurangi dampak

Penelitian baru-baru ini menjelaskan bagaimana kita bisa meminimalisir serat mikro yang masuk ke lautan lewat mesin cuci.

“Saat menggunakan mesin cuci, Anda bisa menurunkan suhu air. Jika suhu di atas 30 derajat Celcius, kemungkinan serat mikro yang terbawa akan semakin banyak,” tutur Laura Diaz Sanchez dari LSM Plastic Soup Foundation.

Baca juga: Pemanasan Laut 2019 Setara dengan 5 Bom Atom Per Detik

Selain itu, lanjut Sanchez, deterjen cair lebih baik dibanding serbuk.

“Deterjen serbuk punya efek scrub. Juga, jangan gunakan pengering,” tambahnya.

Upaya lainnya yang bisa dilakukan adalah mengurangi belanja pakaian. Studi mengungkapkan bahwa pakaian baru lebih banyak mengeluarkan serat mikro dibanding pakaian lama.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber PHYSORG
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X