Kompas.com - 12/12/2019, 17:03 WIB

KOMPAS.COM - Sehubungan dengan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), Anda mungkin menjadi salah satu pengincar diskon dan tergiur dengan harga yang ditawarkan oleh situs belanja online.

Namun, apakah Anda mengetahui bahwa itu semua adalah trik atau pola gelap situs belanja online?

Pola gelap atau dark pattern merupakan sebuah strategi manipulatif yang digunakan oleh kebanyakan situs belanja online.

Dilansir dari The Atlantic (02/08/2019), istilah ini diciptakan oleh ilmuwan kognitif yang berbasis di London, Harry Brignull pada 2010 untuk menggambarkan praktik online yang menipu.

"Pola gelap pada dasarnya adalah taktik yang digunakan oleh desain antarmuka pengguna untuk mengarahkan pengguna ke jalur tertentu untuk kepentingan penyedia layanan," kata Marshini Chetty, asisten profesor ilmu komputer di UChicago.

Baca juga: Begini Cara Gelap Situs Belanja Online Memanipulasi Anda Jadi Boros

Sebuah tim peneliti Princeton membuat katalog teknik-teknik menipu ini dengan mengambil data dari 11.000 situs belanja. Tujuannya, untuk mengidentifikasi cara halus para situs menggunakan pengetahuan kita untuk mengendalikan kita.

Hasilnya, lebih dari satu dari 10 situs mengandung setidaknya satu jenis pola gelap. Semakin populer situs tersebut, semakin besar kemungkinan situs tersebut menggunakan setidaknya satu pola gelap.

Lalu, apa saja pola gelap yang disajikan oleh situs belanja online?

1. Angka yang menunjukkan sisa produk

Ketika sedang memilih produk, Anda mungkin akan melihat pesan yang menyatakan "hanya ada delapan yang tersisa!" Pesan tersebut mendesak Anda untuk membeli segera sebelum produk hilang.

Ternyata, para peneliti menganalisis skrip dan plug-in halaman web sehingga menemukan bahwa dalam banyak kasus, angka-angka ini dihasilkan secara acak atau diatur untuk berkurang sesuai dengan jadwal.

2. Harga turun dalam hitungan waktu mundur

Pola gelap yang satu ini seing disebut ‘penjualan flash (flash sale)’. Biasanya, pengecer fesyen besar sering menggoda penurunan harga sementara dengan mengisi halaman dengan spanduk bertuliskan "Penjualan segera berakhir!" dalam hitungan waktu mundur.

Hal ini menciptakan "urgensi" sehingga membuat Anda cemas dan segera membeli produk tersebut. Tetapi sekali lagi, peneliti menemukan bahwa penjualan tersebut terus berlanjut bahkan setelah penghitung waktu berakhir.

Baca juga: Trik Psikologi di Balik Belanja Natal yang Bikin Kantong Kering

3. Bukti sosial

Pola ini merupakan pesan pop-up yang ditampilkan di beberapa situs seperti "90 orang telah melihat item ini!".

Taktik ini menghasilkan dua kekuatan pemikiran, yaitu pemikiran ikut-ikutan (ini populer, jadi saya harus mendapatkannya ) dan kelangkaan ( jika saya tidak mendapatkannya, orang lain akan).

Tetapi setelah menganalisis situs, peneliti kembali menemukan bahwa angka tersebut datang dari generator nomor acak dan pilihan dari stok pesanan.

4. Bahasa manipulatif

Beberapa situs menggunakan bentuk rasa bersalah lain sebagai cara mempertahankan loyalitas. Jika Anda menolak tawaran, Anda bukan sekadar menekan ‘tidak’, melainkan sebuah kalimat yang membuat Anda merasa bersalah dan berfikir kedua kalinya.

Contohnya, pada salah satu blog makanan populer , untuk menolak penawaran buletin, pengguna harus mengklik "Tidak, terima kasih, saya akan makan malam dengan microwave malam ini."

"Tujuan dari pola-pola ini dalam konteks belanja adalah membuat Anda membeli lebih banyak barang," kata Mathur kepada Wall Street Journal, seperti dilansir phys.org (29/11/2019).

Baca juga: Mengapa Sulit Mengendalikan Hasrat Belanja?

Solusinya adalah, Anda sebaiknya meningkatkan kesadaran ketika sedang berbelanja online sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh situs online tersebut.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.