Begini Cara "Gelap" Situs Belanja Online Memanipulasi Anda Jadi Boros

Kompas.com - 28/06/2019, 17:06 WIB
Ilustrasi belanja online. SHUTTERSTOCKIlustrasi belanja online.

KOMPAS.com – Pernahkah Anda merasa menyesal telah membeli barang-barang yang sebetulnya tidak Anda butuhkan di internet? Menurut studi yang baru saja dirilis, keborosan tersebut mungkin bukan salah Anda sendiri, tetapi situs belanja yang telah memanipulasi Anda.

Sebuah studi yang baru saja dirilis oleh para peneliti Princeton University menemukan bahwa ada banyak situs belanja yang menggunakan teknik “dark pattern” (pola gelap) untuk memaksa Anda membuat keputusan buruk dan membeli barang-barang yang tidak Anda butuhkan.

Gunes Acar, peneliti Princeton yang membantu studi, mengatakan kepada Business Insider, Selasa (25/6/2019), menunjukkan penghitung waktu dan menulis bahwa Anda Cuma punya waktu lima menit – (ini menimbulkan) rasa kedaruratan yang paling tidak bisa dipertanyakan.

Baca juga: Trik Psikologi di Balik Belanja Natal yang Bikin Kantong Kering

Untuk menyelidiki hal ini, Acar dan koleganya membuat sebuah alat untuk menjelajahi 10.000 situs e-commerce. Dari 10.000 situs tersebut, lebih dari 1.200 di antaranya ditemukan menggunakan dark pattern yang berbasis teks.

Perlu dicatat bahwa jumlah situs para peneliti temukan masih jauh di bawah angka sebenarnya. Pasalnya, studi hanya berfokus pada teks dan situs-situs ritel, sementara  desain-desain yang manipulatif dan situs lain, seperti situs travel dan sosial media, belum dipertimbangkan.

Para peneliti kemudian mengategorikan teknik-teknik yang digunakan menjadi 15 tipe, misalnya membuat pembeli kesulitan membatalkan pembelian, mempermalukan pembeli ketika mereka ingin meninggalkan situs (seperti mengganti tombol pembatalan menjadi “Tidak terima kasih, saya tidak suka makanan enak”) dan membuat testimoni palsu.

Baca juga: Belanja Rokok Jadi Pengeluaran Terbesar Ketiga Setelah Pangan

Lebih jauh, ketika The New York Times mencoba untuk mereplikasi hasil studi; mereka menemukan bahwa beberapa situs bahkan sengaja membuat produk yang Anda lihat seakan-akan dibeli oleh orang lain.

Keberadaan pembeli palsu ini, tulis The New York Times, Senin (24/6/2019), diciptakan untuk membuat tekanan sosial yang akan memaksa Anda ikut membeli.

Kepada The New York Times, Arvind Narayanan selaku profesor sains komputer di Princeton dan penulis studi mengakui bahwa pesan-pesan yang menunjukkan bahwa suatu barang sedang diburu oleh banyak orang bisa jadi tidak termasuk dark pattern bila memang benar adanya. Namun, itu pun merupakan upaya untuk memanipulasi kelemahan konsumen.

“Kami tidak mengklaim bahwa semua yang kami kategorikan dalam laporan harus menjadi perhatian pembuat kebijakan pemerintah. Tapi seharusnya ada transparansi mengenainya sehingga orang-orang yang belanja online sadar bagaimana perilaku mereka diarahkan,” ujarnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X