Digital Health Tumbuh, Ketua IDI Ingatkan Hanya untuk Konsultasi

Kompas.com - 11/12/2019, 08:04 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

KOMPAS.COM - Semua warga negara berhak mendapat akses pelayanan kesehatan. Namun dalam kenyataannya, masih banyak penduduk Indonesia yang kesulitan mendapatkan akses itu, terutama mereka yang tinggal di pelosok negeri.

Untuk mengatasi permasalahan ini, di era digital seperti saat ini mulai banyak bermunculan platform digital health alias layanan kesehatan yang diakses via digital.

Namun perlu disadari, akses digital health semacam ini bukan untuk terapi, tapi hanya berkonsultasi dan menyampaikan data saja.

Dikatakan Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Daeng M. Faqih, S.H, M.H, layanan kesehatan berbasis digital diharapkan dapat membantu masyarakat, khususnya Indonesia bagian timur yang masih kekurangan dokter spesialis untuk mengakses layanan kesehatan dengan cepat.

Baca juga: Mutu Pelayanan Kesehatan Didorong

"Jangan sampai orang yang aksesnya sudah dipermudah, mendapatkan informasi yang tidak valid tentang kesehatan. Itu malah lebih celaka," ujar Daeng dijumpai dalam acara peluncuran layanan GrabHealth, aplikasi layanan kesehatan yang dibangun Grab Indonesia dan Good Doctor Technology Indonesia (GDTI) di Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Dengan layanan kesehatan berbasis digital, Daeng berharap masyarakat dapat teredukasi dalam menyelesaikan dan mencegah penyakit ringan secara mandiri.

Namun untuk catatan, konsultasi penyakit berat dan serius tidak bisa dilakukan dengan digital health.

Daeng mengatakan, ada tiga kunci pelayanan kesehatan yang harus diterapkan dalam digital health, yaitu akses yang cepat, menjamin kualitas, dan menjamin keselamatan dari pengguna platform.

Oleh karena itu, dokter yang tergabung dalam digital health harus kredibel. Artinya, sudah memiliki surat tanda registrasi sehingga sudah diakui negara dan memiliki surat izin praktik di tempat praktiknya.

"Karena platform ini bukan tempat praktik. Jadi, sebaiknya yang bergabung di platform seperti ini adalah dokter-dokter yang berbasis tempat praktik, dia sudah punya STR dan SIP," sambungnya saat ditemui di Jakarta (10/12/2019).

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X