Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Meski Bikin Sakit Perut, Kenapa Orang Tetap Suka Makanan Pedas?

Kompas.com - 10/12/2019, 18:33 WIB
Gloria Setyvani Putri

Editor

Jadi, jika tanaman cabai mengembangkan mekanisme untuk melindungi diri dari mamalia, kenapa mekanisme tersebut gagal berlaku pada manusia?

Fenomena ini cukup mengejutkan mengingat manusia umumnya mengasosiasikan rasa pahit dengan racun, salah satu mekanisme untuk bertahan.

Ada beberapa petunjuk yang menjelaskan mengapa manusia menjadi satu-satunya mamalia yang makan cabai.

Sensasi terbakar

Salah satu teorinya adalah bahwa manusia mengembangkan selera makan pedas karena makanan pedas memiliki fungsi antijamur dan antibakteri.

Manusia mulai menyadari bahwa makanan pedas akan lebih tahan lama. Rasa pedasnya menjadi penanda bahwa makanan tersebut belum basi.

Hipotesis ini dikemukakan oleh pakar biologi dari Cornell University, Jennifer Billing dan Paul W. Sherman, pada 1998.

Mereka menganalisis ribuan resep tradisional berbasis daging di 36 negara dan menemukan bahwa bumbu-bumbu lebih banyak digunakan di negara-negara dengan iklim hangat, di mana makanan akan lebih mudah basi.

"Di negara beriklim hangat, hampir semua resep berbasis daging mengandung setidaknya salah satu jenis bumbu, termasuk bumbu dengan rasa yang sangat pedas, sementara di negara-negara yang lebih dingin, umumnya makanan disajikan tanpa bumbu, atau sedikit sekali," demikian simpulan kedua ilmuwan tersebut.

Negara-negara seperti Thailand, Filipina, India, dan Malaysia, merupakan negara-negara dengan penggunaan bumbu terbanyak. Sementara Swedia, Finlandia, dan Norwegia menjadi negara dengan penggunaan bumbu paling sedikit.

"Saya percaya bahwa resep-resep makanan merupakan bukti sejarah yang menggambarkan perlombaan evolusi antara manusia dan parasit kita. Mikroba bersaing dengan kita untuk mendapatkan makanan," ujar Sherman.

"Apapun yang kita lakukan dengan makanan - pengeringan, memasak, pengasapan, penggaraman, atau penambahan bumbu - adalah upaya untuk menjaga kita dari keracunan."

Antidot untuk rasa hambar?

Pakar antropologi makanan Kaori O'Connor memberi penjelasan lainnya.

Ia menjelaskan bahwa, seperti halnya tebu dan kentang, cabai merupakan bahan makanan yang tidak dikenal di benua Eropa sebelumnya. Tapi, setelah bangsa Eropa mencapai benua Amerika dan mulai memperluas jalur dagang, cabai mulai mendunia.

"Cabai mulai dikenal di kalangan petualang dari benua Eropa," ujar O'Connor.

Halaman:


Video Pilihan Video Lainnya >

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau