Musim Hujan Mundur, Bagaimana Potensi Banjir Akhir Tahun?

Kompas.com - 06/12/2019, 06:36 WIB
Ilustrasi hujan KulkannIlustrasi hujan

KOMPAS.com - Musim hujan resmi dinyatakan mundur beberapa waktu lalu. Kini, memasuk Desember dasarian I (10 hari pertama) banyak wilayah yang sudah merasakan diguyur hujan.

Terhadap kemunduran musim hujan yang terjadi, lantas apakah potensi banjir akhir tahun juga mengalami kemunduran?

Menjawab hal itu, Kompas.com menghubungi Kasubid Analisis Infomasi Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG), Adi Ripaldi, Kamis (5/12/2019).

Adi menjelaskan bahwa meski telah memasuki musim hujan, potensi banjir akhir tahun juga belum bisa dipastikan secara spesifik.

Baca juga: Musim Hujan Mundur, Ini 10 Daerah dengan Kekeringan Terpanjang

"Untuk potensi banjir sangat tergantung dari curah hujan harian dan kondisi kemampuan suatu wilayah menghadapi kondisi hujan yang ada," jelasnya.

Oleh sebab itu, kata dia, ada baiknya masyarakat selalu memperhatikan curah hujan harian yang turun di wilayahnya masing-masing, terutama bagi daerah yang memang sudah sering mengalami kebanjiran atau memang memiliki potensi bencana lainnya.

Ditegaskan Adi, kewaspadaan terhadap banjir tidak mesti dilakukan saat musim hujan berada di puncaknya, tetapi harus tetap dilakukan selama periode peralihan musim seperti saat ini.

"Selama periode peralihan dan periode musim hujan ini berlangsung, tetap harus waspada. Terutama hujan-hujan harian yang intensitasnya tinggi atau sangat lebat, karena (banjir) bisa terjadi kapan saja pada periode musim hujan ini," ujarnya.

Baca juga: Musim Hujan Segera Tiba, Ini Cara Cegah Nyamuk DBD Masuk Rumah

Diberitakan sebelumnya, sebagian pulau Jawa akan memasuki musim hujan pada Dasarian I (10 hari pertama) dan Dasarian II (10 hari kedua) bulan Desember.

Mundurnya musim hujan tahun ini disebabkan oleh tiga faktor.

Pertama, menguatnya Dipole Mode Positif di Samudera Hindia. Kedua, anomali suhu mula laut yang dingin di perairan Indonesia. Ketiga, keterlambatan datangnya monsun atau angin musim Asia ke wilayah Indonesia.

"Melihat perkembangan dinamika atmosfer dan laut hingga akhir November, masih kuatnya gangguan Dipole Mode di Barat Daya Sumatera, masih dinginnya laut sekitar Indonesia, menyebabkan pergantian angin musim atau Monsun kita terlambat," jelas Adi kepada Kompas.com, Senin (2/12/2019).

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X