Pakar Iklim Memperingatkan, 2019 Tahun Terpanas Sepanjang Dekade

Kompas.com - 05/12/2019, 13:20 WIB
Ilustrasi perubahan iklim, kebakaran hutan ShutterstockIlustrasi perubahan iklim, kebakaran hutan

KOMPAS.com - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut 2019 sebagai salah satu tahun terpanas sepanjang dekade.

Hal tersebut diungkap dalam perundingan tentang perubahan iklim COP25 yang berlangsung di Madrid, Spanyol, Senin (2/12/2019).

Dilansir The Guardian, Selasa (3/12/2019), WMO mencatat terjadinya kenaikan suhu global pada tahun ini sebesar 1,1 derajat Celsius. Angka ini lebih tinggi dibandingkan era praindustri tahun 1850-1900.

Baca juga: Awal Musim Hujan Mundur, Benarkah Terkait Perubahan Iklim?

Kenaikan suhu yang hanya 1 derajat Celsius menurut ahli berdampak pada cuaca ekstrem serta kerusakan ekosistem.

Beberapa peristiwa yang bisa terlihat belakangan antara lain gelombang panas mematikan di Eropa, Australia, dan Jepang.

Kemudian badai super menghancurkan di Afrika Tenggara serta kebakaran hutan di Australia dan California.

Padahal gelombang panas dan banjir dulunya merupakan peristiwa yang jarang terjadi, sekarang menjadi fenomena yang mucul lebih teratur.

"Jika kita tak segera mengambil tindakan, maka kita sedang menunggu peningkatan suhu lebih dari 3 derajat celcius pada akhir abad ini. Dampaknya tentu makin berbahaya," kata Petteri Taalas, Sektretaris Jenderal WMO, dilansir The Independent, Rabu (4/12/2019).

Ia juga memperingatkan adanya ancaman ketahanan pangan yang cukup besar bagi negara-negara yang rentan terhadap perubahan iklim.

Ini tak lain karena pola curah hujan yang tak menentu sehingga menjadi ancaman bagi panen, di tambah lagi dengan peningkatan populasi.

Baca juga: 11.000 Ilmuwan Sepakat, Perubahan Iklim Sudah Darurat dan Global

Dalam KTT iklim tersebut, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guteres menyebut pula upaya untuk memerangi perubahan iklim saat ini sama sekali tak memadai.

Para ahli pun juga masih menghadapi perjuangan untuk meyakinkan para penghasil emisi besar, seperti AS untuk ikut memerangi krisis iklim.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengumumkan bahwa AS secara resmi menarik diri dari perjanjian iklim Paris 2015.

Perjanjian ini padahal berupaya mengikat negara-negara untuk menjaga peningkatan suhu rata-rata global hingga di bawah 2 derajat celcius.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X