Kompas.com - 27/11/2019, 13:22 WIB
Papeda, sagu keras makanan khas di Lopintol, Raja Ampat, Papua Barat. KOMPAS.com/ABBA GABRILLINPapeda, sagu keras makanan khas di Lopintol, Raja Ampat, Papua Barat.

Resistant starch (pati resistan)

Pati resistan ialah bagian pati yang tidak bisa dicerna saluran pencernaan manusia.

"Pati sagu itu, patinya besar-besar kalau dilihat di bawah mikroskop, sehingga dia tidak mudah dicerna. Nah, pati yang tidak mudah dicerna itu akan masuk ke saluran pencernaan, melalui usus besar," ujar Endang.

"Lalu, di usus besar itulah akan menjadi sumber makanan bagi bakteri-bakteri baik, dan sangat spesifik pati sagu itu akan menjadi produksi asam lemak rantai pendek," imbuhnya.

Beberapa asam lemak rantai pendek itu seperti short-chain fatty acid (SCFA), hidrogen, metana, karbon dioksida, dan sejumlah energi (0-3 kalori per gram), dikutip dari buku Sagu Papua untuk Dunia.

Asam lemak rantai pendek hasil fermentasi mikroba (bakteri) tersebut cepat diserap ke hati dan bisa menghambat sintesis kolesterol di dalamnya.

Selain itu, senyawa di usus besar ini bermanfaat sebagai probiotik yang bisa meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi risiko terjadinya kanker usus, kanker paru-paru dan kegemukan, serta mempermudah buang air besar.

Baca juga: Makan Nasi Kadaluarsa Berusia 5 Hari Bisa Menyebabkan Kematian, Benarkah?

Indeks glikemik (GI) rendah

GI merupakan angka yang menunjukkan seberapa cepat karbohidrat suatu makanan berubah menjadi gula di dalam darah.

Makin tinggi GI, perubahan karbohidrat (pati) menjadi gula juga semakin cepat.

Rendahnya GI sagu terkait dengan tingginya pati resisten bahan pangan ini, karena pencernaan makanan berbahan sagu ini lambat di saluran pencernaan, menyebabkan terjadinya penurunan laju penyerapan glukosa dalam usus juga.

Hal ini dianggap penting karena jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, dan penderita diabetes diharuskan menjaga kadar gula dalam darah tetap stabil dengan mengonsumsi makanan ber-GI rendah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.