Bagaimana Jika Bumi Datar?

Kompas.com - 25/11/2019, 20:05 WIB
Bumi datar. ShutterstockBumi datar.

KOMPAS.com – Sebelum Rusia meluncurkan satelit Sputnik 1 pada 1957, belum ada bukti otentik bahwa Bumi itu bulat.

Meski satelit tersebut berhasil mengelilingi dan memotret gambar Bumi dari angkasa, namun masih ada sekelompok orang yang meyakini bahwa Bumi itu datar.

Baca juga: Roket Pendukung Teori Bumi Datar Akhirnya Meluncur, Apa yang Terjadi?

Flat-Earthers, begitu mereka biasa disebut, kini semakin bergerilya lewat media online. Para Flat-Earthers berupaya untuk membuktikan dengan berbagai cara bahwa Bumi itu datar dan berujung.

Memangnya, bagaimana jika Bumi benar-benar datar?

Diputar dengan cepat

David Stevenson selaku ilmuwan astronomi dari Caltech mengatakan, untuk membentuk sebuah lempengan (seperti disket), Anda harus memutar Bumi dengan sangat cepat.

Jika diputar dengan kecepatan sangat tinggi, sayangnya, Bumi pasti akan hancur menjadi partikel-partikel kecil.

Pada tahun 1850-an, astronom James Clerk Maxwell membuktikan bahwa tak ada satupun benda berbentuk lempengan (seperti disket) yang bertahan di luar angkasa. Hal itu terbukti dari penelitiannya terhadap cincin Planet Saturnus, yang terlihat seperti lempengan namun ternyata terdiri dari partikel-partikel kecil yang mengambang.

Mike Hughes dan roket buatannya untuk buktikan bumi datar.AP via Telegraph Mike Hughes dan roket buatannya untuk buktikan bumi datar.

Jika memang Bumi itu datar, maka umur Bumi tidak akan bertahan lama. Gravitasi akan menekan Bumi kembali menjadi partikel-partikel kecil. Jika berbentuk datar, Bumi tidak akan bertahan dengan kondisi gravitasi yang sekarang. Tidak ada atmosfer, tidak ada ombak.

Lalu bagaimana dengan Bulan? Jika Bumi itu datar, Bulan tidak akan ada. Gravitasi yang eksis sekarang menjadi alasan hadirnya Bulan sebagai satelit alam satu-satunya milik Bumi.

Struktur berlapis pada Bumi

Gravitasi juga bertanggungjawab pada struktur Bumi yang berlapis-lapis. Material yang paling padat terletak pada inti Bumi. Material yang lebih ringan menjadi mantel, melapisi lapisan padat pada bagian inti. Kemudian, material yang paling ringan melapisi permukaan Bumi.

Inti Bumi yang berupa cairan bertindak sebagai magnet raksasa, yang menciptakan medan magnetik pada Bumi. Medan magnetik ini berperan untuk melindungi atmosfer planet dari angin matahari.

Jika tidak ada medan magnetik, Bumi akan bernasib sama seperti Mars yang tersapu oleh angina matahari akibat hilangnya medan magnetik empat miliar tahun lalu.

Lempeng dan patahan

Jika Bumi itu datar, patahan tektonik dan lempeng-lempeng bumi tidak akan bekerja. Hal itu dikatakan oleh James Davis, ahli geofisika dari Columbia University Lamont-Doherty Earth Observatory di New York.

“Jika patahan ini bergerak maka akan berdampak pada patahan lainnya, itu hanya berlaku jika Bumi bulat,” tuturnya seperti dikutip dari Live Science, Senin (25/11/2019).

Atas semua penjelasan tersebut, para Flat-Earthers tidak tinggal diam. Mereka tetap memelintir fakta bahwa aktivitas-aktivitas tersebut bisa terjadi jika Bumi datar. Namun tidak ada penjelasan yang sesuai dengan unsur matematika atau fisika.

Baca juga: 2020, Para Penganut Bumi Datar Akan Berlayar ke “Ujung Bumi”

Pada kenyataannya, Bumi hadir bersanding dengan Bulan karena satu alasan yaitu gravitasi.

Namun terlepas dari itu, jika memang Bumi berbentuk datar, maka jutaan ilmuwan yang menyangkal hal tersebut mungkin akan membentuk sebuah konspirasi. Ribuan teori akan hanyut begitu saja dengan teori yang tidak realistis.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat dibanding Rapid Test

Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat dibanding Rapid Test

Oh Begitu
Ahli Kini Tahu Alasan Perubahan Warna Kulit pada Pasien Covid-19

Ahli Kini Tahu Alasan Perubahan Warna Kulit pada Pasien Covid-19

Oh Begitu
Kemoterapi Pasien Kanker yang Kena Covid-19 Tidak Berisiko Kematian

Kemoterapi Pasien Kanker yang Kena Covid-19 Tidak Berisiko Kematian

Oh Begitu
Lolos dari Maut, Kumbang Ini Bertahan Hidup meski Telah Dimakan Katak

Lolos dari Maut, Kumbang Ini Bertahan Hidup meski Telah Dimakan Katak

Oh Begitu
Rahasia Alam Semesta: Seberapa Besar Alam Semesta ini?

Rahasia Alam Semesta: Seberapa Besar Alam Semesta ini?

Oh Begitu
Sering Tidak Terdiagnosis, Kenali Penyakit Autoimun Sjogren's Syndrome

Sering Tidak Terdiagnosis, Kenali Penyakit Autoimun Sjogren's Syndrome

Oh Begitu
Seri Baru Jadi Ortu: Bayi Pilek, Bagaimana Cara Sedot Ingusnya?

Seri Baru Jadi Ortu: Bayi Pilek, Bagaimana Cara Sedot Ingusnya?

Oh Begitu
Diabetes Penyakit Turunan, Mungkinkah Bisa Dicegah?

Diabetes Penyakit Turunan, Mungkinkah Bisa Dicegah?

Oh Begitu
Penyakit Baru di China Menghantui di Tengah Pandemi Covid-19, Apa Itu Virus Tick Borne?

Penyakit Baru di China Menghantui di Tengah Pandemi Covid-19, Apa Itu Virus Tick Borne?

Fenomena
Studi Temukan, OTG Corona Sama Menularnya dengan yang Bergejala

Studi Temukan, OTG Corona Sama Menularnya dengan yang Bergejala

Oh Begitu
Obesitas di Amerika Serikat bisa Turunkan Efektivitas Vaksin Covid-19

Obesitas di Amerika Serikat bisa Turunkan Efektivitas Vaksin Covid-19

Fenomena
Unika Atma Jaya Jakarta Resmikan Laboratorium Covid-19 Aman Lingkungan

Unika Atma Jaya Jakarta Resmikan Laboratorium Covid-19 Aman Lingkungan

Oh Begitu
AI Bisa Jadi Alat Transformasi Sampah Menjadi Produks Bernilai Seni, Kok Bisa?

AI Bisa Jadi Alat Transformasi Sampah Menjadi Produks Bernilai Seni, Kok Bisa?

Oh Begitu
Waspada, Penderita Diabetes Pengidap Covid-19 Lebih Banyak Meninggal

Waspada, Penderita Diabetes Pengidap Covid-19 Lebih Banyak Meninggal

Oh Begitu
Penciptaan AI Juga Butuh Etika, Apa Maksudnya? Ini Penjelasan Ahli

Penciptaan AI Juga Butuh Etika, Apa Maksudnya? Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X