Temuan Kera Prasejarah, Ubah Pandangan tentang Evolusi Manusia

Kompas.com - 10/11/2019, 20:03 WIB
Fosil-fosil Danuvius guggenmosi yang ditemukan di Allgäu, Bayern, Jerman.
Fosil-fosil Danuvius guggenmosi yang ditemukan di Allgäu, Bayern, Jerman.

KOMPAS.com - Para ilmuwan pada hari Rabu (06/11/2019) mengatakan, kera yang disebut Danuvius guggenmosi memiliki gabungan anggota tubuh antara manusia dan kera.

Anggota tubuh Danuvius guggenmosi pada bagian bawah berbentuk lurus yang membuatnya dapat berjalan dengan kedua kaki. Sementara di bagian atas, ia memiliki lengan panjang seperti kera yang dapat direntangkan untuk meraih cabang-cabang pohon.

Temuan ini menunjukkan bahwa Danuvius mampu berjalan tegak dengan dua kaki serta menggunakan keempat anggota badannya saat memanjat pepohonan.

Baca juga: Botswana Diklaim Jadi Kampung Halaman Umat Manusia, Ini Kata Para Ahli

Para peneliti mengatakan, temuan ini menunjukkan bahwa bipedalisme berasal dari nenek moyang manusia dan kera besar yang mendiami Eropa, alih-alih berasal dari leluhur di Afrika, benua tempat spesies Homo sapiens pertama kali muncul sekitar 300.000 tahun lalu. Yang termasuk kera besar adalah simpanse, bonobo, gorila dan orangutan.

Sebelum penemuan ini, para peneliti percaya bahwa bukti fosil tertua bipedalisme dalam evolusi manusia berasal dari sekitar 6 juta tahun yang lalu di daerah yang kini masuk wilayah Kenya dan jejak kaki manusia di Pulau Kreta, Yunani.

Ungkap perkembangan berjalan di atas dua kaki

Fosil-fosil dari Kenya ini adalah anggota garis keturunan manusia yang telah punah yang disebut Orrorin tugenensis.

Jika Danuvius ternyata adalah leluhur manusia, ini berarti beberapa keturunannya pada suatu saat di masa lampau telah melakukan perjalanan menuju Afrika.

"Danuvius secara dramatis mengubah pandangan tentang mengapa, kapan dan di mana evolusi bipedalitas terjadi," kata ahli paleoantropologi Madelaine Böhme dari Universitas Tübingen di Jerman yang memimpin penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature ini.

Penemuan Danuvius menghancurkan ide yang berlaku tentang evolusi bipedalisme.

Selama ini para peneliti percaya bahwa sekitar 6 juta tahun yang lalu di Afrika Timur, leluhur manusia yang berbentuk seperti simpanse mulai berjalan dengan dua kaki setelah perubahan lingkungan menciptakan bentangan terbuka dan sabana di wilayah-wilayah yang sebelumnya didominasi rimba belantara.

"Paradigma ini sekarang menurun - atau, dengan kata lain, kita telah keliru," ujar Böhme.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X