BMKG: Tak Ada Indikasi El Nino Kuat 2020, tapi Tetap Harus Waspada

Kompas.com - 22/10/2019, 17:00 WIB
Warga melintas di waduk yang kering Desa Simo, Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (25/9/2019). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau panjang dengan kekeringan ekstrem masih akan terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia hingga bulan November 2019. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/nz. ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHAWarga melintas di waduk yang kering Desa Simo, Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (25/9/2019). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau panjang dengan kekeringan ekstrem masih akan terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia hingga bulan November 2019. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/nz.

KOMPAS.com - Hasil monitoring dan analisa dinamika atmosfer yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) menunjukkan, pada 2020 tidak ada indikasi akan terjadi El Nino kuat di Indonesia.

Disampaikan oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, bahwa prediksi tersebut didukung juga dengan hasil monitoring dan analisis oleh badan NOAA, NASA, serta JAMSTEC milik Jepang.

"Hal ini menandai tahun 2020 nanti diperkirakan tidak ada potensi anomali iklim yang berdampak pada curah hujan di wilayah Indonesia. Curah hujan akan cenderung sama dengan pola iklim normal (klimatologisnya),” kata Dwikorita di Jakarta, Selasa (22/10/2019).

El Nino adalah fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. El Nino memiliki dampak yang beragam dalam lingkup skala global.

Beberapa negara di kawasan Amerika Latin seperti Peru, saat terjadi El Nino akan berdampak pada meningkatnya curah hujan di wilayah tersebut. Sedangkan di Indonesia secara umum, dampak dari El Nino adalah kondisi kering dan berkurangnya curah hujan.

Baca juga: Laporan PBB: 2017 adalah Tahun Terpanas Tanpa El Nino dalam Satu Abad

Dwikorita menjelaskan, musim kemarau umumnya akan dimulai pada bulan April atau Mei hingga Oktober 2020.

Sementara wilayah di dekat ekuator, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Riau, musim kemarau pertama akan dimulai pada Februari hingga Maret 2020.

"Sehingga tetap perlu diwaspadai untuk potensi kondisi kering yang dapat berdampak karhutla," ujarnya.

Kondisi musim tahun 2019

Namun, untuk kondisi tahun 2019 ini, Dwikorita menambahkan, El Nino lemah telah berakhir pada bulan Juli lalu, dan kondisi netral ini masih berlanjut hingga di penghujung tahun 2019.

Sedangkan, fenomena yang saat ini sedang terjadi, kata Dwikorita, adalah rendahnya suhu permukaan laut daripada suhu normalnya yang berkisar antara 26-27 derajat celcius di wilayah perairan Indonesia bagian selatan dan barat, sehingga berimplikasi pada kurangnya pembentukan awan di wilayah Indonesia.

Dengan adanya fenomena tersebut, mengakibatkan awal musim hujan periode 2019-2020 mengalami kemunduran.

"Sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim hujan pada Bulan November, kecuali untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan yang dimulai sejak pertengahan Oktober 2019," tuturnya.

Baca juga: Cuaca di Jawa Sedang Panas, BMKG: Sebentar Lagi Kembali Normal

Dwikorita mengimbau kepada masyarakat agar dapat mengoptimalkan usaha menjaga cadangan air, melalui optimalisasi manajemen operasional air waduk saat musim penghujan dan melalui gerakan memanen air hujan.

Teknologi Modifikasi Cuaca dapat diterapkan sebagai alternatif pada saat peralihan kedua musim tersebut, terutama bagi wilayah yang rawan kekeringan dan karhutla.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X