Gaya Hidup, Penyebab Meningkatnya Penyakit Paling Mematikan di Dunia

Kompas.com - 12/10/2019, 10:05 WIB
Ilustrasi jantung yodiyimIlustrasi jantung

KOMPAS.com - Berdasarkan data dari World Health Federation (WHF), penyakit jantung menjadi pembunuh nomor satu di dunia dengan jumlah lebih dari 17 juta kematian atau sekitar 31 persen setiap tahunnya. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 23,3 juta jiwa di tahun 2030.

Sementara itu, di Indonesia sendiri, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Setidaknya 15 dari 1.000 orang atau sekitar 2,8 juta individu di Indonesia menderita penyakit jantung.

Mengutip Sample Registration System (SRS) 2014, penyakit jantung juga menduduki peringkat kedua tertinggi setelah stroke untuk tingkat kematian terbanyak di Indonesia.

Dokter spesialis kardiovaskular dari Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (RS MMC), Prof Dr dr Idrus Alwi SpPD KKV FACC FESC, mengatakan bahwa meningkatnya jumlah penderita penyakit jantung di Indonesia tidak terlepas dari perubahan gaya hidup masyarakat serta kemajuan teknologi.

Baca juga: Dendy Mikes Meninggal, Ini Cara agar Tidak Mati Saat Serangan Jantung

Masyarakat kini kurang bergerak, kurang berolahraga, mengalami stres, tetapi malah lebih banyak yang merokok dan minum alkohol.

" Gaya hidup seperti ini yang pada akhirnya memunculkan penyakit degeneratif, salah satunya penyakit jantung," kata Idrus di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Untuk diketahui, penyakit degeneratif mengacu pada kondisi di mana kesehatan seseorang terganggu akibat memburuknya suatu jaringan atau organ seiring berjalannya waktu. Penyakit degeneratif umumnya dapat memengaruhi sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang), tulang dan sendi, serta pembuluh darah atau jantung.

Di RS MMC, tempat Idrus berpraktik, sebagian besar pasien yang menderita penyakit jantung mengalami penyakit ini karena gaya hidup, bukan karena faktor genetik.

Baca juga: Penyakit Jantung Bawaan, Bagaimana Penanganannya?

Sependapat dengan Idrus, dokter dan pengamat gaya hidup masyarakat metropolitan, Dr Sonia Wibisono, menegaskan bahwa meningkatnya penderita penyakit jantung memang banyak disebabkan oleh faktor gaya hidup sehingga rawan dialami oleh masyarakat metropolitan.

"Ya selain kurang berolahraga, faktor yang sangat berperan adalah stres dan pola makan dan tidur yang kurang," kata Sonia.

Salah satu faktor stres yang dihadapi masyarakat metropolitan, seperti Jakarta, adalah kemacetan.

"Belum lagi kebiasaan makan yang kurang sehat, junk food begitu yang praktis. Sangat memungkinkan ini untuk memicu menderita penyakit jantung," ujarnya.

Sebaliknya, kasus penyakit jantung yang disebabkan oleh gaya hidup sebenarnya bisa dicegah, yakni dengan menjaga kualitas hidup, menjaga kesehatan, dan yang terpenting adalah memiliki kesadaran terhadap kesehatan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X