Ditemukan, Spesies Baru Katak Bertanduk dari Hutan Kalimantan

Kompas.com - 06/10/2019, 10:06 WIB
Katak tanduk kalimantan atau Megophrys Kalimantanensis, merupakan jenis berbeda dengan katak pinokio. ellyvon pranitaKatak tanduk kalimantan atau Megophrys Kalimantanensis, merupakan jenis berbeda dengan katak pinokio.

KOMPAS.com - Peneliti telah menemukan katak jenis terbaru dengan nama Katak Tanduk Kalimantan, atau Megophrys Kalimantanensis. Ternyata, jenis katak ini berbeda dengan spesies katak pinokio.

Katak Tanduk Kalimantan ditemukan saat ekspedisi di Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, juga di Bario, Sarawak dan Pegunungan Crocker di Sabah, Malaysia.

Tim peneliti terdiri dari beberapa instansi yaitu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI); Kyoto University, Jepang; Aichi University of Education, Jepang; Institut Teknologi Bandung; dan Universitas Negeri Semarang.

Baca juga: Serba Serbi Hewan: Inilah Katak Terbesar di Dunia, Bisa Bangun Kolam

Pemberian nama Kalimantanensis merupakan toponim dari nama pulau Kalimantan. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan di jurnal Zootaxa vol. 4679.

Dilansir dari laman resmi LIPI, peneliti bidang herpetologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Amir Hamidy, menyatakan morfologi Katak Tanduk Kalimantan ini sangat mirip dengan Katak Tanduk Pinokio (Megophrys nasuta). Katak Tanduk Pinokio tersebar luas mulai dari Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaya, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Spesimen pertama dari jenis baru ini sebetulnya sudah dikoleksi pada tahun 2008 oleh peneliti senior Pusat Penelitian Biologi LIPI, Irvan Sidik, namun dengan nama katak tanduk pinokio.

Baca juga: Halo Prof! Apa Bedanya Katak dengan Kodok?

Meski dikoleksi sejak tahun 2008, namun sejumlah kegiatan ekspedisi lapangan di kawasan Pegunungan Meratus baru dilakukan kembali pada 2019.

“Di ekspedisi kali ini tidak hanya spesimen individu dewasa yang berhasil dikoleksi, tetapi juga koleksi kecebong dan suara yang dihasilkan oleh individu jantan,” kata Amir di Cibinong, Jumat (4/10/2019).

Melalui pendekatan morfologi, molekuler dan akustik, spesimen yang sebelumnya diduga sebagai Katak Tanduk Pinokio ternyata merupakan jenis yang berbeda dan belum memiliki nama ilmiah.

Ciri-ciri

Dibandingkan dengan Katak Tanduk Pinokio, katak jenis baru ini memiliki tanduk (dermal accessory) pada bagian moncong dan mata yang lebih pendek jika dibandingkan dengan Katak Tanduk Pinokio.

Serta terdapat sepasang lipatan lateral tambahan pada sayap. Pada saat berudu, katak ini berwarna coklat tua yang condong ke oranye-coklat dan berubah menjadi coklat pucat pada saat dewasa.

Secara akustik, suara individu jantan Katak Tanduk Kalimantan ini memiliki variasi yang lebih banyak dan lebih panjang jika dibandingkan dengan Katak Tanduk Pinokio.

“Berdasarkan hasil analisis dari tiga metode pendekatan tersebut kami menyimpulkan bahwa jenis tersebut merupakan jenis baru dan kemudian diberi nama Megophrys kalimantanensis,” ujar Amir.

Habitat

Penemuan Katak Tanduk Kalimantan yaitu di bagian Pegunungan utara Borneo (Sarawak dan Sabah), Malaysia serta Pegunungan Meratus yang masuk wilayah Indonesia. Kedua lokasi ini mengejutkan para peneliti, karena lokasinya terpisah cukup jauh yaitu sekitar 950 kilometer.

Meski cukup jauh, tetapi kedua populasi tersebut memiliki variasi genetik yang sangat rendah dan menunjukkan sebagai jenis yang sama.

“Batas negara antara Malaysia dan Indonesia tidak berlaku untuk jenis baru ini. Hamparan lahan gambut dan hutan dataran rendah antara bagian utara dan selatan di pulau Kalimantan ini sepertinya menjadi pembatas, sehingga jenis baru ini hanya dapat ditemukan di kawasan pegunungan baik di utara maupun selatan pulau,” ujar Amir.

Ancaman

Penemuan Katak Tanduk Kalimantan ini bukanlah yang terakhir, karena kawasan Kalimantan masih luas daerah yang belum tereksplorasi. Begitu juga wilayah lainnya di Indonesia seperti Sumatera, Sulawesi, dan Papua.

“Hilangnya hutan di Kalimantan menjadi ancaman yang cukup serius bagi jenis ini kawasan berhutan sebagai habitat utamanya,” katanya.

Gaveu et al pada tahun 2014 melaporkan sekitar 168,493 km2 atau lebih dari 30 persen hutan di pulau Kalimantan telah hilang selama kurun waktu 1973 sampai 2010.

Baca juga: Karhutla Ancam Flora Endemik di Sumatera dan Kalimantan

Menurut Amir, hilangnya kawasan hutan menjadi ancaman serius untuk jenis-jenis yang mungkin belum dideskripsikan.

"Bisa saja begitu terdeskripsikan saat itu juga diketahui sebagai jenis yang terancam punah. Atau mungkin populasi tersebut adalah populasi terakhir, mengingat sudah tidak ada hutan lagi yang cukup bagus," kata dia.

Selain kerusakan habitat, penggunaan komersial sebagai hewan peliharaan juga menjadi ancaman serius.

“Kepunahan spesies ini memenuhi syarat rentan dan dimungkinkan untuk masuk dalam kategori status Daftar Merah IUCN sebagai bentuk upaya konservasi lebih lanjut,” ujar Amir.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X