Halo Prof! Apa Bedanya Katak dengan Kodok?

Kompas.com - 24/04/2019, 18:08 WIB
Katak raksasa Enrekang jenis Limnonectes gruniens AMIR HAMIDYKatak raksasa Enrekang jenis Limnonectes gruniens

KOMPAS.com – Sama seperti lebah dan tawon, masih banyak orang Indonesia yang bingung akan perbedaan katak dan kodok. Hal ini wajar saja karena kedua amfibi memiliki penampakan yang hampir mirip, dan dalam bahasa awam, penggunaan kata “katak” dan “kodok” sering digunakan secara bergantian.

Kebingungan ini diutarakan oleh Sinom April Sudrajat, seorang pembaca Kompas.com dalam komentar terhadap unggahan artikel Katak Raksasa sampai Orangutan Tapanuli, 5 Bukti Kekayaan Indonesia yang diunggah ke Facebook resmi Kompas.com. Berikut pertanyaannya:

“Min, saya mau tanya, katak sama kodok itu beda apa sama sih. Tolong min kasih persamaan dan perbedaannya. Thx.”

Untuk menjawab pertanyaan Sinom, Kompas.com pun menghubungi peneliti reptil dan amfibi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy.

Baca juga: Katak Raksasa sampai Orangutan Tapanuli, 5 Bukti Kekayaan Indonesia

Melalui wawancara via telepon pada Rabu (24/4/2019), Amir menjelaskan bahwa kata “katak” dan “kodok” diadopsi dari istilah bahasa Inggris yaitu “frogs” dan ”toads”.  

“’Frogs’ mengacu pada suku Ranidae yang berkulit mulus dan loncatannya jauh, sedangkan ‘toads’ mengacu pada suku Bufonidae yang berkulit kasar dan lompatannya pendek,” katanya.

Meski demikian, bukan berarti semua katak dan kodok di Indonesia adalah Ranidae dan Bufonidae. Di Inggris, memang hanya ada dua suku itu saja. Namun, Indonesia begitu kaya dan memiliki banyak suku dari ordo Anura, termasuk Dicroglossidae yang menaungi katak sebesar ayam di Enrekang (Limnonectes grunniens).

Di Indonesia, penggunaan istilah ”kodok” digunakan untuk grup yang lebih dekat dengan Bufonidae, sedangkan “katak” untuk grup yang lebih dekat dengan Ranidae,  Microhylidae dan Racophoridae.

Amir sekaligus menepis anggapan bahwa katak hidup di air, sedangkan kodok hidup di darat. Menurut dia, habitat tidak menentukan jenisnya. Ada fase berudu pada keduanya ketika mereka bernapas menggunakan insang sehingga habitatnya adalah air.

“Namun, katak dan kodok juga bernapas menggunakan kulit, sehingga pasti sekering-kering apapun pasti ia juga butuh lembap untuk bernapas,” katanya.

Hanya ada satu spesies di Indonesia yang benar-benar murni akuatik atau hidup dalam air, yaitu Barbourula kalimantanensis atau katak tak berparu. Ketika dewasa pun, katak ini tidak memiliki paru-paru sehingga ia lebih banyak bernapas dengan kulit di dalam air.

Punya pertanyaan terkait kesehatan dan sains yang membuat Anda penasaran? Kirimkan pertanyaan Anda ke haloprof17@gmail.com untuk dijawab oleh ahlinya



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kena Cahaya Bulan, Tubuh Tokek Gurun Ini Jadi Hijau Neon

Kena Cahaya Bulan, Tubuh Tokek Gurun Ini Jadi Hijau Neon

Fenomena
CDC: Varian Baru Virus Corona Inggris Mungkin Mendominasi pada Maret

CDC: Varian Baru Virus Corona Inggris Mungkin Mendominasi pada Maret

Oh Begitu
Laut Makin Asam, Gurita Kembangkan Adaptasi Baru untuk Bertahan Hidup

Laut Makin Asam, Gurita Kembangkan Adaptasi Baru untuk Bertahan Hidup

Oh Begitu
9 Syarat Penerima Vaksin dalam Program Vaksinasi Covid-19

9 Syarat Penerima Vaksin dalam Program Vaksinasi Covid-19

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Hoaks BMKG Imbau Warga Tinggalkan Mamuju | Kota yang Hilang karena Erupsi Gunung di Lombok

[POPULER SAINS] Hoaks BMKG Imbau Warga Tinggalkan Mamuju | Kota yang Hilang karena Erupsi Gunung di Lombok

Oh Begitu
BMKG: Banjir Manado Bukan Tsunami, tapi Waspadai Potensi Gelombang Tinggi

BMKG: Banjir Manado Bukan Tsunami, tapi Waspadai Potensi Gelombang Tinggi

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Awal Zaman Kapur Picu Pengasaman Laut

Letusan Gunung Berapi Awal Zaman Kapur Picu Pengasaman Laut

Fenomena
Laut Dalam Pantai Australia Dihuni Spesies Porifera Karnivora Ini

Laut Dalam Pantai Australia Dihuni Spesies Porifera Karnivora Ini

Fenomena
[HOAKS] Gempa Mamuju, BMKG Bantah Intruksikan Warga Tinggalkan Mamuju

[HOAKS] Gempa Mamuju, BMKG Bantah Intruksikan Warga Tinggalkan Mamuju

Fenomena
NASA dan Boeing Uji Roket Superkuat untuk Misi Artemis ke Bulan

NASA dan Boeing Uji Roket Superkuat untuk Misi Artemis ke Bulan

Fenomena
Banjir Kalimantan Selatan, Warga Diimbau Tetap Waspada Hujan 3 Hari ke Depan

Banjir Kalimantan Selatan, Warga Diimbau Tetap Waspada Hujan 3 Hari ke Depan

Fenomena
Banyak Konsumsi Makanan Asin Berbahaya untuk Jantung, Kok Bisa?

Banyak Konsumsi Makanan Asin Berbahaya untuk Jantung, Kok Bisa?

Oh Begitu
Lagi, Gempa Bumi Ke-39 Kali Guncang Majene dan Mamuju

Lagi, Gempa Bumi Ke-39 Kali Guncang Majene dan Mamuju

Oh Begitu
BMKG Ungkap 2 Penyebab Banjir Manado yang Tewaskan 6 Orang

BMKG Ungkap 2 Penyebab Banjir Manado yang Tewaskan 6 Orang

Oh Begitu
BMKG: Banjir Kalimantan Selatan Akibat Cuaca Ekstrem Dipicu Dinamika Atmosfer Labil

BMKG: Banjir Kalimantan Selatan Akibat Cuaca Ekstrem Dipicu Dinamika Atmosfer Labil

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X