Studi Terbaru, Bakteri Berubah Bentuk untuk Hindari Antibiotik

Kompas.com - 03/10/2019, 19:08 WIB
Bakteri GAETAN STOFFEL/ISTOCKBakteri

KOMPAS.com – Antibiotik diciptakan untuk mematikan bakteri-bakteri yang bersifat resisten, yang merupakan salah satu ancaman medis terbesar di dunia.

Bakteri yang resisten terhadap antibiotic telah menyebabkan sekitar 700.000 kematian per tahun. Belum ditambah jumlah kasus infeksi termasuk pneumonia, tuberculosis, dan gonorrhoea.

Jika dunia medis tidak bisa menemukan cara untuk menghentikan bakteri-bakteri tersebut, diperkirakan pada tahun 2050, bakteri akan menyebabkan sekitar 10 juta kematian per tahun.

Mengapa bakteri bisa resisten terhadap antibiotik, padahal dunia medis telah mengembangkan antibiotik yang canggih?

Mengutip Science Alert, Kamis (3/10/2019), ini karena bakteri bisa berubah bentuk dan menghindari antibiotik. Salah satu contohnya, bakteri bisa mengeluarkan antibiotik dari dalam tubuhnya. Contoh lain, mereka juga bisa berhenti berkembangbiak dan membelah diri sehingga keberadaannya sulit dilihat pada sistem imun.

Baca juga: Anda Mencuci Baju Menggunakan Mesin? Waspadai Bakteri Ini

Cara lainnya yang baru diketahui adalah dengan berubah bentuk. Hal ini dilakukan bakteri di dalam tubuh manusia untuk dapat menghindari antibiotik.

Pada dasarnya, semua bakteri memiliki struktur tubuh dan dilindungi oleh cell wall atau dinding sel. Dinding ini ibarat jaket tebal untuk melindungi bakteri dari sekelilingnya. Dinding inilah yang membuat bentuk bakteri, juga membantu bakteri untuk berkembangbiak dan membelah diri.

Tubuh manusia tidak memiliki dinding sel seperti ini. Oleh karena itulah, mudah bagi sistem imun manusia menemukan bakteri dalam tubuh. Oleh karena itu pula diciptakan antibiotik yang langsung menyerang dinding sel bakteri, seperti penicillin. Antibiotik menyerang bakteri tanpa menyakiti tubuh kita.

Ilustrasi bakteri Clostridium botulinumist Ilustrasi bakteri Clostridium botulinum

Namun, bakteri kini bisa bertahan tanpa dinding sel. Jika lingkungan di sekitarnya memungkinkan bakteri untuk tidak memiliki dinding, bakteri bisa berubah menjadi “L-forms” dengan tanpa dinding sel.

Bakteri seperti ini ditemukan pada 1935 oleh Emmy Klieneberger-Nobel, yang menamai bentuk bakteri tersebut di Lister Institute tempat ia bekerja waktu itu.

Baca juga: Sindrom Nasi Goreng, Infeksi Bakteri yang Paling Sering Serang Manusia

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X