Kompas.com - 19/09/2019, 13:06 WIB
Kiamat tak akan terjadi dengan Big bang, tetapi dengan Big Rip. Ace Stock Limited/Alamy Kiamat tak akan terjadi dengan Big bang, tetapi dengan Big Rip.

KOMPAS.com - Sudah menjadi rahasia umum bahwa Bumi dalam masalah yang serius. Tetapi, selama di Bumi ini masih ada ilmuwan, kehancuran di planet yang kita tinggali ini bisa ditunda. 

Berikut cara cerdik para ilmuwan untuk menunda hari kiamat, seperti dilansir dari Science Alert.

1. Mengubah Gas Karbondioksida (CO2) Menjadi Bahan Bakar

Peneliti di Kanada telah mengembangkan sebuah perangkat yang menghisap polusi CO2 dan mengubahnya menjadi bahan bakar. Perangkat ini dikembangkan oleh sebuah perusahaan start-up Carbon Engineering yang sebagian dananya disokong oleh penemu Windows Bill Gates.

Cara kerja teknologi ini adalah menyedot gas CO2 dari udara. Kemudian dengan hidrogen yang telah dipisahkan oleh air, lantas hidrokarbon, sehingga bisa berfungsi sebagai bahan bakar.

2. Mengumpulkan Cacing untuk Memakan Sampah Plastik

Diperkirakan pada tahun 2050, jumlah ikan akan lebih sedikit dari jumlah sampah plastik yang terdiri dari gelas kopi atau kantong plastik. Tetapi, untuk pertama kalinya pada akhir tahun 2015, ilmuwan menemukan bakteri yang ada di dalam usus seekor cacing yang mampu menghancurkan plastik.

Kabar baiknya, cacing ini juga mampu memakan styrofoam dan polystryne sebelum berakhir di laut atau pembuangan sampah.

3. Membersihkan Laut dengan Jaring Raksasa

Pemuda berusia 22 tahun bernama Boyan Slat menemukan ide yang cukup “gila” untuk mengatasi masalah limbah yang sudah mencemari lautan.

Pada 2014, ia mengusulkan untuk membuat filter raksasa berbentuk V dan membentangkannya ke lautan sehingga angin dan arus lautan akan mengumpulkan sampah melalui alat tersebut.

Kini, ia sedang membuat prototipe dan didukung oleh 15 perguruan tinggi serta pengumpulan dana yang sukses.

4. Membuat Awan Berlian

Rekayasa kebumian dapat digunakan untuk membuat awan buatan yang bertujuan untuk menurunkan suhu bumi. Dahulu, para ilmuwan menyarankan untuk memompa zat sulfur dioksida dalam jumlah besar ke dalam atmosfir. Penelitian ini berhasil karena ketika terjadi erupsi gunung berapi, hasilnya terbukti dapat mendinginkan suhu bumi.

Dikarenakan zat sulfur tidak baik untuk pernapasan, mahasiswa Harvard menemukan ide yang lebih aman. Ide tersebut adalah melemparkan zat alumina dan serbuk berlian ke dalam atmosfir. Awan berlian ini jauh lebih aman karena tidak beracun seperti sulfur.

5. Menggunakan drone untuk reboisasi

Mantan insinyur NASA Lauren Fletcher menemukan solusi reboisasi atau penanaman pohon kembali yang lebih cepat daripada sebelumnya. Ia dan perusahaannya, BioCarbon Engineering, menggunakan drone untuk menanam pohon sebanyak satu juta per tahunnya.

Alasannya adalah manusia tidak mungkin mampu mengganti pohon yang ditebang untuk membangun rumah, perkebunan, dan pembuatan kertas setiap tahunnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kita
Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X