John de Rantau Kritik Pakaian Shandy Aulia, Dua Pakar Berkomentar

Kompas.com - 18/09/2019, 18:47 WIB
Sutradara John De Rantau dan artis peran Shandy Aulia dalam acara Q&A di Metro TV. Bidik Layar YouTube MetroTVSutradara John De Rantau dan artis peran Shandy Aulia dalam acara Q&A di Metro TV.

KOMPAS.com - Sutradara John de Rantau mengritik gaya berpakaian artis peran Shandy Aulia di tayangan Q&A: POLUSI RUANG PUBLIK di Metro TV.

Menurut John, gaya berpakaian Shandy mengundang netizen untuk merundungnya.

"Contoh saya pernah lihat kamu dengan pakaian yang sangat tipis, yang memperlihatkan bentuk lekuk dan aurat kamu. Maaf, seluruh laki-laki nusantara kayak menginginkan kamu," ujarnya.

"Nah itu yang tidak kamu sadari, ketika bully-an datang, lalu kemudian keluar kata-kata senonoh segala macam, kamu enggak bisa salahkan karena kamu yang mengundang itu untuk mereka memperlakukan dirimu," imbuhnya lagi.

Menanggapi kritik John, Shandy mengatakan, ya memang, again, culture (budaya) kita Asia, saya mengerti, ketimuran, budaya, tapi terkadang sesuatu yang tidak sesuai dengan pola pikir apa yang menurut kita ideal itu pasti akan crash.

Baca juga: Menurut Pakar Jender, Video Ikan Asin Ungkap Watak Pria Misoginis

Dia melanjutkan, jadi, saya juga enggak bisa paksakan orang untuk menjaga pikirannya. Tapi kalau buat saya, seorang perempuan mau berpakaian tertutup, atau terbuka, itu tergantung dari pikiran sih. Karena mau tertutup segimanapun kalau memang it's dirty mind (pikiran kotor) ya sudah dirty aja.

Perdebatan kedua figur publik ini membelah warganet. Ada yang sependapat dengan John dan ada juga yang sependapat dengan Shandy. Perbedaan pendapat ini juga terjadi pada kedua pakar yang Kompas.com hubungi pada Rabu (18/9/2019).

Harti Muchlas, Direktur Rifka Annisa

Direktur pusat pengembangan sumberdaya untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan ini berpendapat bahwa perempuan memiliki otoritas penuh atas tubuh dan seksualitasnya, tergantung bagaimana nilai dan norma yang diyakini oleh perempuan itu sendiri.

Harti juga menjelaskan bahwa perempuan bisa saja diharuskan mengikuti norma yang berlaku bila adil terhadap perempuan.

"Tapi terkadang norma masyarakat itu banyak yang tidak adil bagi perempuan, tapi karena norma itu diajarkan selama puluhan tahun maka telah menghegemoni perempuan dan menjadi sebuah kebenaran yang kadang diyakini oleh perempuan juga," ujarnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X